Pemilu 2029 di Aceh: Saatnya Pendidikan Pemilih Dalam Bahasa Daerah

Daftar Isi

Siribee.com » Pemilu tidak cukup hanya diselenggarakan, ia juga harus dipahami. Sebab, demokrasi yang sehat bukan sekadar tentang berapa banyak orang datang ke tempat pemungutan suara, melainkan juga tentang seberapa jauh masyarakat memahami hak, pilihan dan tanggung jawabnya sebagai pemilih.

Di titik inilah pendidikan pemilih menjadi penting. Menuju Pemilu 2029, Aceh membutuhkan cara komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga dekat dengan masyarakat, salah satu gagasan yang layak dipertimbangkan adalah memperluas pendidikan pemilih melalui bahasa daerah.

Aceh memiliki keragaman bahasa yang hidup dalam masyarakat. Bahasa Aceh digunakan di banyak wilayah, sementara Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Singkil, Tamiang, Kluet dan ragam bahasa lokal lainnya menjadi bagian dari identitas masyarakat di daerah masing-masing. Keragaman tersebut semestinya tidak hanya dipandang sebagai kekayaan budaya, tetapi juga dapat menjadi kekuatan dalam membangun komunikasi demokrasi.

Selama ini, informasi Pemilu umumnya disampaikan dalam Bahasa Indonesia dengan gaya yang cenderung formal dan administratif. Tentu hal itu diperlukan karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi penyelenggaraan pemerintahan dan Pemilu. Namun, ketika tujuan akhirnya adalah meningkatkan partisipasi masyarakat, pertanyaannya bukan hanya apakah informasi sudah disampaikan, tetapi apakah informasi tersebut benar-benar dipahami.

Bahasa daerah dapat menjadi jembatan untuk menjawab persoalan itu.

Bayangkan jika penjelasan mengenai tata cara memilih, pentingnya menggunakan hak suara, bahaya politik uang, cara mengenali informasi palsu atau pentingnya menjaga persaudaraan setelah Pemilu disampaikan melalui video pendek dalam Bahasa Aceh. 

Di dataran tinggi Gayo, pesan yang sama dapat dikemas dalam Bahasa Gayo, di Aceh Tenggara, Bahasa Alas dapat menjadi bagian dari pendekatan komunikasi, begitu pula di komunitas yang menggunakan Aneuk Jamee, Singkil, Tamiang, Kluet, maupun bahasa lokal lainnya.

Pesannya tetap satu, Pemilu harus dipahami, tetapi pintu masuknya disesuaikan dengan masyarakat.

Gagasannya tidak berhenti pada penerjemahan materi. KIP dapat membangun Pendidikan Pemilih Multibahasa Aceh, sebuah model komunikasi yang memadukan Bahasa Indonesia dengan bahasa daerah sesuai karakter wilayah. Materinya dapat dikembangkan dalam bentuk video pendek, podcast, infografis, animasi, komik digital, hingga dialog pendidikan pemilih di tingkat gampong.

Yang menarik, program semacam ini dapat sekaligus menjadi ruang kolaborasi. Penutur asli, budayawan, akademisi, guru, tokoh masyarakat, komunitas pemuda dan kreator lokal dapat dilibatkan dalam produksi konten. Mereka bukan hanya membantu menerjemahkan kata, tetapi memastikan pesan demokrasi terdengar alami dan tidak terasa seperti bahasa birokrasi yang dipindahkan ke bahasa daerah.

Pendekatan ini juga penting untuk generasi muda. Mereka hidup dalam ekosistem digital yang bergerak cepat. Pendidikan pemilih tidak bisa terus bergantung pada pertemuan formal dan ceramah satu arah. Demokrasi perlu hadir di ruang tempat anak muda memperoleh informasi, media sosial, podcast, video pendek dan berbagai platform digital lainnya.

Namun, tujuan akhirnya tetap bukan sekadar menghasilkan konten. Pendidikan pemilih harus diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat secara sadar dan bermakna. Masyarakat bukan hanya datang ke TPS karena diingatkan, tetapi datang karena memahami mengapa hak pilih itu penting.

Di sinilah gagasan pendidikan pemilih berbasis bahasa daerah menemukan relevansinya. Ia tidak sekadar berbicara tentang bahasa, tetapi tentang bagaimana demokrasi menemukan jalan menuju masyarakat.

Pemilu 2029 seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola teknis penyelenggaraan, ia juga dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki cara demokrasi berkomunikasi.

Sebab, demokrasi akan sulit terasa dekat jika terus berbicara dengan bahasa yang terasa jauh.

Di Aceh, mungkin waktunya sederhana saja, biarkan demokrasi berbicara dengan bahasa masyarakatnya sendiri.

Penulis: Yusri Razali | Editor: Redaksi

Posting Komentar

☕ TRAKTIR KOPI ☕
Apresiasi Anda, semangat Siribee.com untuk terus menghadirkan karya bermakna.
« KLIK DISINI»
Satu Tahun Siribee.com