Meuseuraya, Kearifan Lokal Aceh yang Mengajarkan Nilai Demokrasi
Oleh: Rachmat Hidayat, M.Si, CAL, CHRM *)
Siribee.com » Demokrasi sering kali dipahami melalui pemilu, hak memilih, lembaga perwakilan, serta proses pergantian kekuasaan. Padahal, demokrasi dalam kehidupan masyarakat memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Ia juga berkaitan dengan bagaimana warga hidup bersama, menghargai perbedaan, mengambil keputusan, berbagi tanggung jawab dan menjaga kepentingan bersama.
Dalam konteks Aceh, nilai-nilai tersebut dapat ditemukan dalam berbagai praktik sosial yang tumbuh dan diwariskan di tengah masyarakat. Salah satunya adalah Meuseuraya.
Meuseuraya dikenal sebagai praktik bekerja bersama atau gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan yang memiliki kepentingan bagi masyarakat. Tradisi ini bukan sekadar mempertemukan banyak orang untuk mengerjakan sesuatu secara bersamaan. Di baliknya terdapat nilai tentang kepedulian, kebersamaan, partisipasi, dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, Meuseuraya menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai warisan budaya Aceh, tetapi juga sebagai salah satu cermin tentang bagaimana masyarakat membangun kehidupan bersama.
Di sinilah Meuseuraya memiliki ruang untuk dibicarakan dalam perspektif demokrasi.
Bukan karena Meuseuraya merupakan sistem demokrasi. Jelas bukan. Demokrasi modern memiliki mekanisme, institusi, aturan, serta prinsip hukum yang berbeda. Namun, sejumlah nilai yang hidup dalam praktik Meuseuraya memiliki relevansi dengan kehidupan demokratis.
Masyarakat tidak pernah benar-benar hidup dalam keseragaman. Setiap orang memiliki kebutuhan, kepentingan, kemampuan dan pandangan yang berbeda.
Namun, kehidupan sosial membutuhkan ruang untuk menemukan titik temu.
Meuseuraya lahir dari kebutuhan tersebut. Ketika sebuah pekerjaan dianggap penting bagi kepentingan bersama, masyarakat dapat mengambil bagian sesuai kemampuan dan perannya.
Ada yang memberikan tenaga. Ada yang membantu dengan peralatan. Ada yang memberikan gagasan. Ada pula yang berperan mengatur dan memastikan pekerjaan dapat berlangsung.
Pola semacam ini menunjukkan bahwa sebuah persoalan bersama tidak selalu dapat dibebankan kepada satu orang.
Ada kesadaran bahwa kepentingan bersama membutuhkan kontribusi bersama. Prinsip sederhana itu memiliki relevansi yang kuat dengan demokrasi.
Demokrasi tidak akan tumbuh hanya karena negara memiliki perangkat hukum atau masyarakat memiliki hak pilih. Demokrasi membutuhkan warga yang bersedia mengambil bagian dalam kehidupan bersama.
Dengan demikian, partisipasi menjadi salah satu titik penting yang mempertemukan nilai Meuseuraya dengan demokrasi.
Menyebut Meuseuraya hanya sebagai gotong royong sebenarnya belum sepenuhnya menggambarkan makna sosial yang dapat dibaca dari praktik tersebut.
Gotong royong menjelaskan bentuk kegiatannya. Namun, di balik kegiatan itu terdapat proses sosial yang lebih luas.
Ketika masyarakat berkumpul untuk menyelesaikan pekerjaan bersama, terjadi interaksi antar sesama warga. Mereka bertemu, berkomunikasi, membagi pekerjaan, menentukan kebutuhan dan menyelesaikan persoalan yang muncul. Dalam proses tersebut, terbentuk pengalaman sosial.
Warga belajar bahwa pekerjaan bersama membutuhkan koordinasi. Mereka belajar bahwa kemampuan setiap orang berbeda. Mereka juga belajar bahwa tujuan bersama terkadang lebih penting daripada kepentingan pribadi.
Pengalaman seperti itu menjadi penting dalam membangun masyarakat yang memiliki budaya partisipatif.
Sebab, demokrasi pada dasarnya tidak hanya membutuhkan warga yang mengetahui haknya, tetapi juga warga yang memahami tanggung jawabnya.
Dari Meuseuraya Belajar Tentang Partisipasi
Partisipasi masyarakat merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan demokrasi. Dalam pemilu, partisipasi paling mudah terlihat ketika warga menggunakan hak pilih. Namun, partisipasi politik tidak berhenti di bilik suara.
Warga juga dapat berpartisipasi melalui diskusi publik, pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan, penyampaian aspirasi, keterlibatan dalam organisasi masyarakat, hingga kepedulian terhadap persoalan di lingkungan sekitar.
Meuseuraya memberikan gambaran mengenai partisipasi dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Masyarakat tidak menunggu seluruh persoalan diselesaikan oleh pihak lain. Mereka dapat mengambil peran untuk menyelesaikan persoalan yang berada di lingkungan mereka.
Dari sini terdapat sebuah pelajaran penting, demokrasi yang kuat membutuhkan masyarakat yang terbiasa berpartisipasi.
Jika masyarakat terbiasa pasif dalam kehidupan sosial, membangun partisipasi demokratis menjadi lebih sulit. Sebaliknya, kebiasaan untuk terlibat dalam urusan bersama dapat menjadi modal sosial bagi kehidupan demokrasi.
Kehidupan masyarakat Aceh juga mengenal berbagai praktik musyawarah dan pengambilan keputusan secara bersama.
Dalam konteks gampong, ruang-ruang sosial seperti meunasah secara historis memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Di dalam kehidupan komunitas, persoalan bersama dapat dibicarakan dan dicari penyelesaiannya melalui kesepakatan.
Hal ini memperlihatkan bahwa kehidupan sosial tidak hanya membutuhkan kerja bersama, tetapi juga komunikasi dan kesediaan untuk mendengarkan.
Demokrasi menghadapi tantangan ketika perbedaan dianggap sebagai ancaman. Padahal, perbedaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat demokratis.
Dalam pemilu, misalnya, pilihan politik warga tidak selalu sama. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar selama diekspresikan dalam koridor hukum dan etika demokrasi.
Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pilihan berubah menjadi permusuhan sosial. Di sinilah budaya musyawarah dan kebiasaan bekerja bersama dapat memberikan pelajaran.
Masyarakat yang terbiasa bertemu dan bekerja bersama memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami bahwa perbedaan tidak selalu harus menghasilkan perpecahan.
Dalam ilmu sosial, terdapat konsep modal sosial, yakni jaringan hubungan, kepercayaan, norma, serta kemampuan bekerja sama yang dapat membantu masyarakat mencapai tujuan bersama. Meuseuraya dapat dibaca dalam kerangka tersebut.
Ketika warga terbiasa saling membantu, terbentuk hubungan sosial. Ketika mereka bekerja bersama, tumbuh rasa saling percaya. Ketika pekerjaan diselesaikan secara kolektif, muncul pengalaman bahwa persoalan dapat dihadapi secara bersama-sama.
Modal sosial semacam ini tidak selalu terlihat secara langsung. Ia tidak berbentuk gedung atau infrastruktur. Namun, keberadaannya dapat menentukan apakah sebuah komunitas memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan bersama.
Dalam kehidupan demokrasi, modal sosial juga memiliki arti penting. Demokrasi membutuhkan tingkat kepercayaan tertentu antarsesama warga. Tanpa kepercayaan, perbedaan mudah berubah menjadi kecurigaan. Tanpa komunikasi, perbedaan mudah berubah menjadi konflik.
Karena itu, merawat budaya kebersamaan sebenarnya juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas kehidupan demokratis.
Persoalannya, masyarakat Aceh hari ini hidup dalam situasi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Mobilitas masyarakat semakin tinggi. Pola pekerjaan berubah. Teknologi digital mengubah cara orang berkomunikasi. Media sosial membuat interaksi dapat berlangsung tanpa pertemuan fisik.
Perubahan tersebut membawa banyak manfaat. Namun, di sisi lain, perubahan sosial juga dapat memengaruhi pola hubungan masyarakat.
Waktu untuk berinteraksi secara langsung dapat berkurang. Individualisme dapat semakin terasa. Hubungan sosial yang sebelumnya dibangun melalui pertemuan tatap muka dapat bergeser ke ruang digital.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata apakah Meuseuraya masih dilakukan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah nilai Meuseuraya masih hidup dalam masyarakat?
Sebab, sebuah tradisi dapat kehilangan maknanya ketika hanya dipertahankan sebagai simbol. Meuseuraya perlu dipahami sebagai nilai, bukan sekadar kegiatan.
Nilai untuk saling membantu. Nilai untuk mengambil bagian. Nilai untuk menyelesaikan persoalan secara bersama. Nilai untuk menghargai kontribusi orang lain.
Keberlanjutan budaya sangat bergantung pada kemampuan generasi berikutnya memahami makna di balik sebuah tradisi.
Generasi muda Aceh hidup dalam lingkungan yang jauh lebih terbuka. Mereka berinteraksi dengan berbagai budaya, menggunakan teknologi digital, dan memiliki cara pandang yang terus berkembang.
Karena itu, pelestarian Meuseuraya tidak cukup dilakukan dengan meminta generasi muda mengulang bentuk kegiatan masa lalu.
Yang lebih penting adalah menerjemahkan nilai Meuseuraya ke dalam konteks kehidupan mereka. Semangat gotong royong dapat hadir dalam kegiatan sosial. Partisipasi dapat diwujudkan melalui kegiatan masyarakat. Kepedulian terhadap kepentingan publik dapat dibangun melalui pendidikan.
Budaya berdiskusi dapat dikembangkan di lingkungan sekolah, kampus, organisasi pemuda, maupun ruang digital.
Dengan cara itu, Meuseuraya tidak menjadi budaya yang hanya dikenang, tetapi menjadi nilai yang tetap relevan.
Ada kecenderungan untuk membicarakan demokrasi hanya melalui institusi formal.
Pemilu dibicarakan melalui penyelenggara, peserta, tahapan, regulasi dan hasil pemungutan suara. Semua itu penting.
Namun, kualitas demokrasi pada akhirnya juga dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang menjadi ruang tempat demokrasi tersebut hidup.
Demokrasi membutuhkan masyarakat yang terbiasa berdialog. Demokrasi membutuhkan warga yang mau terlibat. Demokrasi membutuhkan sikap menghargai orang lain. Demokrasi membutuhkan kesadaran bahwa kepentingan publik tidak selalu sama dengan kepentingan pribadi.
Nilai-nilai tersebut tidak hanya dapat dipelajari dari teori politik. Masyarakat dapat menemukannya dalam pengalaman sosial dan budaya yang telah hidup selama bertahun-tahun. Meuseuraya adalah salah satu contohnya.
Pemilu Tidak Cukup Hanya dengan Mencoblos
Bagi masyarakat luas, pemilu sering kali dipahami secara sederhana, datang ke TPS, menggunakan hak pilih, kemudian pulang. Padahal, pemilu merupakan bagian dari proses demokrasi yang jauh lebih luas.
Sebelum memilih, warga perlu mendapatkan informasi yang benar. Mereka perlu memahami calon dan program yang ditawarkan. Mereka perlu mampu membedakan informasi dengan disinformasi. Setelah pemilu, masyarakat tetap memiliki tanggung jawab untuk mengawasi jalannya pemerintahan dan menyampaikan aspirasi.
Semua itu membutuhkan budaya kewargaan. Dalam konteks tersebut, Meuseuraya dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan pentingnya keterlibatan warga.
Masyarakat yang terbiasa membantu menyelesaikan persoalan lingkungan sekitarnya memiliki pengalaman langsung mengenai arti tanggung jawab bersama.
Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk membangun kesadaran bahwa demokrasi juga membutuhkan keterlibatan warga secara terus-menerus.
Pada akhirnya, persoalan Meuseuraya bukan hanya tentang apakah tradisi itu akan bertahan. Yang jauh lebih penting adalah apakah masyarakat masih memiliki semangat yang menjadi dasar dari tradisi tersebut.
Sebab, kehidupan modern boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Cara bekerja boleh berganti. Namun, kebutuhan manusia untuk hidup bersama, saling membantu dan menyelesaikan persoalan secara kolektif tetap ada.
Karena itu, Meuseuraya dapat ditempatkan sebagai salah satu kekayaan sosial Aceh yang relevan untuk dibicarakan dalam konteks kehidupan demokrasi.
Bukan karena Meuseuraya merupakan demokrasi. Bukan pula karena setiap praktik budaya harus dipaksakan memiliki hubungan dengan politik.
Melainkan karena di dalam Meuseuraya terdapat nilai-nilai sosial yang dapat memperkaya cara masyarakat memahami demokrasi, partisipasi, kebersamaan, tanggung jawab, kepedulian, komunikasi dan kepentingan bersama.
Demokrasi yang kuat tidak hanya dibangun melalui aturan dari atas. Ia juga membutuhkan kebiasaan baik yang tumbuh dari bawah.
Dari keluarga, dari lingkungan, dari gampong, dari ruang-ruang tempat masyarakat bertemu dan menyelesaikan persoalan bersama.
Dalam konteks Aceh, Meuseuraya mengingatkan bahwa demokrasi bukan semata-mata tentang bagaimana seseorang menggunakan haknya, tetapi juga tentang bagaimana setiap orang bersedia mengambil bagian dalam kehidupan bersama.
Dari Meuseuraya, kita belajar bahwa kebersamaan bukan sekadar bekerja bersama. Ia adalah kesediaan untuk hadir, berkontribusi, menghargai perbedaan dan menjaga kepentingan bersama. Nilai-nilai itulah yang membuat demokrasi tidak hanya hidup dalam aturan, tetapi juga dalam keseharian masyarakat.
*) PENULIS adalah Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KIP Kota Banda Aceh.
Posting Komentar