Meurukon: Tradisi Aceh Merawat Perbedaan
Siribee.com » Ketika warga berkumpul di meunasah maupun di balee, yang berlangsung bukan hanya urusan ibadah. Tempat itu juga menjadi ruang untuk belajar, bertemu dan mewariskan pengetahuan. Dari lingkungan sosial semacam inilah Meurukon tumbuh dan bertahan sebagai salah satu tradisi lisan yang hidup dalam masyarakat Aceh.
Meurukon berlangsung secara berkelompok, dengan pengetahuan keagamaan disampaikan melalui syair atau nazam dalam bentuk tanya jawab. Seorang syaikh mengajukan pertanyaan, kemudian peserta menjawabnya secara bergantian atau bersama-sama. Dalam tradisi ini, bertanya dikenal sebagai sue-eu, sedangkan menjawab disebut jaweub. Materi yang disampaikan pun beragam, mulai dari akidah, fikih dan ibadah hingga berbagai persoalan keagamaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Sekilas, meurukon mungkin terlihat sederhana, seseorang bertanya, yang lain menjawab, sementara yang lainnya menyimak. Namun, di balik pola yang sederhana itu, ada kebiasaan yang lebih dalam, pengetahuan tidak dipelajari sendirian, melainkan tumbuh dalam ruang bersama, melalui interaksi dan kebersamaan.
Meurukon bukanlah tradisi politik, apalagi tradisi yang sejak awal dirancang untuk mengajarkan demokrasi atau mengarahkan pilihan seseorang. Namun, cara tradisi ini berlangsung menyimpan nilai kebersamaan yang tetap relevan untuk direnungkan hari ini, terlebih ketika masyarakat berhadapan dengan sesuatu yang selalu hadir dalam demokrasi yaitu perbedaan.
Pemilu membawa masyarakat pada beragam pilihan, perbedaan itu bisa muncul bahkan di lingkungan yang paling dekat, dalam satu rumah, suami dan istri bisa memiliki pilihan politik yang berbeda, kakak dan adik pun belum tentu menjatuhkan pilihan pada orang atau partai yang sama. Begitu juga dengan tetangga dan teman yang setiap hari berjumpa dan berinteraksi.
Perbedaan pilihan semacam itu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, yang perlu dijaga adalah agar perbedaan tersebut tidak berhenti sebagai pilihan di bilik suara, lalu berubah menjadi jarak atau bahkan pertentangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, pilihan politik boleh berbeda, tetapi hubungan sebagai sesama warga tetap perlu dirawat.
Padahal, pemilu datang dan pergi dalam waktu yang terbatas, setelah pencoblosan usai dan hasil ditetapkan, kehidupan kembali pada rutinitasnya. Warga tetap tinggal di gampong yang sama, berpapasan di jalan, duduk semeja di warung kopi, berkumpul di meunasah dan saling membutuhkan dalam berbagai urusan sehari-hari. Pada titik itulah perbedaan pilihan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk menjauh satu sama lain.
Karena itu, menghargai pilihan orang lain menjadi bagian penting dalam kehidupan demokratis, menghargai tidak selalu berarti menyetujui. Setiap orang tetap memiliki kebebasan untuk meyakini dan menentukan pilihannya sendiri, sembari memberi ruang kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama, di tengah perbedaan itulah kehidupan bersama tetap perlu dijaga.
Dalam konteks itulah meurukon terasa tetap relevan untuk dikenang, tradisi ini menunjukkan bagaimana pengetahuan tumbuh melalui percakapan, ada yang bertanya, ada yang menjawab dan ada yang bersedia mendengarkan. Proses yang sederhana, tetapi berlangsung dalam suasana kebersamaan.
Semangat semacam itu juga penting dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan bukan sesuatu yang harus dihapuskan, ia adalah bagian dari kehidupan bersama yang perlu diterima dan dikelola dengan saling menghargai, agar pilihan yang berbeda tidak berubah menjadi jarak atau permusuhan.
Pada akhirnya, pemilu bukan semata tentang suara yang diberikan di bilik suara, ada hal lain yang tak kalah penting, bagaimana masyarakat tetap berjalan bersama setelah pilihan masing-masing diketahui. Sebab, pesta demokrasi hanya berlangsung sesaat, sementara kehidupan sebagai tetangga, saudara dan sesama warga terus berlanjut.
Suara boleh berbeda, pilihan boleh tidak sama. Namun, perbedaan itu tidak harus membuat hubungan ikut terbelah. Menjelang Pemilu 2029, semangat untuk saling menghargai menjadi semakin penting, setiap orang berhak menentukan pilihannya dan pada saat yang sama perlu memberi ruang bagi orang lain untuk memilih secara bebas. Barangkali, di situlah kearifan Meurukon kembali menemukan relevansinya, berbeda pendapat bukan alasan untuk berhenti saling mendengar, menjaga kebersamaan, dan menghormati satu sama lain.

Posting Komentar