Kursi yang Tetap Kami Sisakan
Daftar Isi
| Gambar AI |
Cerpen oleh: Lebah Senja
Siribee.com » Hujan turun ketika mereka mulai bertengkar. Bukan pertengkaran besar. Tidak ada piring yang dilempar. Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada suara yang membuat tetangga keluar rumah dan bertanya apa yang terjadi.
Hanya empat orang di sebuah meja makan kecil, ayah di ujung meja, ibu di sebelahnya, Arif dan Nisa saling berhadapan. Dan sebuah televisi tua di ruang tengah yang menyiarkan berita tentang pemilu.
"Kalau aku jadi dia, aku tidak akan memilih orang itu," kata Arif.
Nisa berhenti menyendok nasi.
"Kenapa?"
"Karena jelas."
"Jelas menurut siapa?"
"Menurutku."
Nisa tersenyum tipis.
"Nah. Menurutmu."
Arif menatap adiknya.
"Memangnya menurutmu bagaimana?"
"Berbeda."
"Selalu begitu."
"Karena aku memang berbeda."
"Nah. Menurutmu."
Arif menatap adiknya.
"Memangnya menurutmu bagaimana?"
"Berbeda."
"Selalu begitu."
"Karena aku memang berbeda."
Ayah yang sejak tadi diam, mengangkat wajah.
"Sudah." Hanya satu kata.
"Sudah." Hanya satu kata.
Tetapi tidak ada yang benar-benar berhenti.
Sebab kadang-kadang, yang membuat orang bertengkar bukan karena mereka membenci satu sama lain. Mereka bertengkar karena sama-sama merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang benar.
Di rumah itu, pemilu selalu datang lebih cepat daripada hari pencoblosan.
Ia datang melalui televisi.
Melalui percakapan di warung.
Melalui grup keluarga.
Melalui berita yang dibaca pagi-pagi.
Melalui potongan video yang dikirim seseorang menjelang tidur.
Dan, tentu saja, melalui meja makan.
Ayah punya pilihan sendiri.
Ibu punya pilihan lain.
Sebab kadang-kadang, yang membuat orang bertengkar bukan karena mereka membenci satu sama lain. Mereka bertengkar karena sama-sama merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang benar.
Di rumah itu, pemilu selalu datang lebih cepat daripada hari pencoblosan.
Ia datang melalui televisi.
Melalui percakapan di warung.
Melalui grup keluarga.
Melalui berita yang dibaca pagi-pagi.
Melalui potongan video yang dikirim seseorang menjelang tidur.
Dan, tentu saja, melalui meja makan.
Ayah punya pilihan sendiri.
Ibu punya pilihan lain.
Arif memilih berdasarkan apa yang menurutnya bisa memperbaiki keadaan ekonomi. Nisa memilih karena ia lebih percaya pada gagasan tentang keadilan dan kebebasan.
Mereka berbeda.
Benar-benar berbeda.
Kadang perbedaan itu membuat mereka tertawa.
Kadang membuat mereka kesal.
Kadang membuat makan malam selesai dalam diam.
Benar-benar berbeda.
Kadang perbedaan itu membuat mereka tertawa.
Kadang membuat mereka kesal.
Kadang membuat makan malam selesai dalam diam.
Tetapi setiap pagi, mereka tetap saling bertanya:
"Sudah sarapan?"
"Motor ada bensin?"
"Jangan lupa bawa payung."
"Kalau pulang malam, kabari."
"Sudah sarapan?"
"Motor ada bensin?"
"Jangan lupa bawa payung."
"Kalau pulang malam, kabari."
Begitulah keluarga.
Barangkali keluarga memang bukan tempat orang-orang harus selalu sepakat.
Keluarga adalah tempat orang-orang boleh berbeda, lalu tetap memiliki alasan untuk pulang.
Barangkali keluarga memang bukan tempat orang-orang harus selalu sepakat.
Keluarga adalah tempat orang-orang boleh berbeda, lalu tetap memiliki alasan untuk pulang.
Suatu malam, Arif pulang dengan wajah murung.
Ia baru saja melihat berita terbaru.
"Menurutku pemilu kali ini akan kacau," katanya.
Nisa yang sedang membaca di ruang tengah tidak menoleh.
"Kenapa?"
"Karena orang-orang terlalu mudah percaya."
"Termasuk kamu?"
Arif menatapnya.
"Termasuk kamu."
Nisa menutup bukunya.
"Masalahnya bukan siapa yang kita percaya."
"Lalu?"
"Bagaimana kita tetap berpikir meskipun orang lain berpikir berbeda."
"Termasuk kamu."
Nisa menutup bukunya.
"Masalahnya bukan siapa yang kita percaya."
"Lalu?"
"Bagaimana kita tetap berpikir meskipun orang lain berpikir berbeda."
Arif tertawa kecil.
"Kamu sekarang bicara seperti dosen."
"Dan kamu bicara seperti komentator televisi."
Ibu yang sedang melipat pakaian di dekat jendela tersenyum.
Ayah tertawa.
"Kamu sekarang bicara seperti dosen."
"Dan kamu bicara seperti komentator televisi."
Ibu yang sedang melipat pakaian di dekat jendela tersenyum.
Ayah tertawa.
Untuk beberapa detik, rumah itu kembali hangat.
Mereka lupa bahwa beberapa menit sebelumnya mereka sedang berdebat tentang sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin cukup untuk memutus pertemanan.
Hari pemungutan suara akhirnya tiba.
Pagi masih muda ketika mereka berangkat.
Langit mendung.
Jalan kampung basah oleh hujan semalam.
Ayah membawa payung.
Ibu membawa kartu identitas.
Arif berjalan di depan.
Nisa di belakang.
Tidak ada yang bertanya pilihan siapa yang akan dicoblos.
Mereka lupa bahwa beberapa menit sebelumnya mereka sedang berdebat tentang sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin cukup untuk memutus pertemanan.
Hari pemungutan suara akhirnya tiba.
Pagi masih muda ketika mereka berangkat.
Langit mendung.
Jalan kampung basah oleh hujan semalam.
Ayah membawa payung.
Ibu membawa kartu identitas.
Arif berjalan di depan.
Nisa di belakang.
Tidak ada yang bertanya pilihan siapa yang akan dicoblos.
Mereka tahu satu hal, suara adalah rahasia.
Di TPS, mereka masuk satu per satu.
Bilik suara memisahkan mereka.
Untuk beberapa saat, mereka bukan ayah, ibu, anak, atau saudara.
Di TPS, mereka masuk satu per satu.
Bilik suara memisahkan mereka.
Untuk beberapa saat, mereka bukan ayah, ibu, anak, atau saudara.
Mereka hanya warga negara.
Dengan satu hak.
Satu keputusan.
Satu suara.
Ketika keluar, mereka kembali menjadi keluarga.
Dengan satu hak.
Satu keputusan.
Satu suara.
Ketika keluar, mereka kembali menjadi keluarga.
"Sudah?" tanya Ibu.
"Sudah," jawab Arif.
Nisa mengangguk.
Ayah tersenyum.
"Kalau begitu, pulang."
"Sudah," jawab Arif.
Nisa mengangguk.
Ayah tersenyum.
"Kalau begitu, pulang."
Sesederhana itu.
Tetapi tidak ada yang menyadari bahwa itu adalah salah satu perjalanan terakhir mereka berempat.
Tetapi tidak ada yang menyadari bahwa itu adalah salah satu perjalanan terakhir mereka berempat.
Beberapa bulan kemudian, Ayah jatuh sakit, awalnya batuk, lalu demam, lalu tubuhnya semakin lemah.
Rumah sakit menjadi tempat yang terlalu sering mereka datangi, koridor putih, lampu yang tidak pernah benar-benar padam, bau obat, kursi tunggu, suara langkah perawat dan doa-doa yang diucapkan dengan suara paling pelan.
Pada suatu malam, Arif duduk di samping tempat tidur ayahnya, Nisa berdiri di dekat jendela. Hujan turun di luar, sama seperti malam ketika mereka bertengkar soal pemilu.
Ayah membuka mata.
"Kalian masih suka berdebat?"
Arif tersenyum.
"Kadang."
Nisa tertawa kecil.
"Sering."
Ayah ikut tersenyum.
"Bagus."
Arif mengerutkan dahi.
"Bagus bagaimana?"
"Berarti kalian masih punya pendapat."
Kemudian Ayah terdiam cukup lama, napasnya terdengar berat.
"Ayah tidak takut kalian berbeda."
Ia menatap kedua anaknya.
"Ayah hanya takut kalian lupa caranya saling menghormati."
Nisa mendekat.
"Ayah..."
"Jangan jadikan pilihan politik sebagai alasan untuk kehilangan saudara."
"Ayah tidak takut kalian berbeda."
Ia menatap kedua anaknya.
"Ayah hanya takut kalian lupa caranya saling menghormati."
Nisa mendekat.
"Ayah..."
"Jangan jadikan pilihan politik sebagai alasan untuk kehilangan saudara."
Kalimat itu jatuh pelan.
Tetapi rasanya seperti batu.
"Pemilu hanya datang beberapa tahun sekali," katanya.
Ia menarik napas.
"Keluarga... setiap hari."
Tetapi rasanya seperti batu.
"Pemilu hanya datang beberapa tahun sekali," katanya.
Ia menarik napas.
"Keluarga... setiap hari."
Tidak ada yang berbicara. Nisa menggenggam tangan ayahnya, Arif menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, mereka tidak punya argumen.
Ayah meninggal tiga hari kemudian. Pagi itu tidak hujan, langit justru sangat cerah. Dan entah mengapa, langit yang cerah terasa lebih menyedihkan daripada hujan.
Ayah meninggal tiga hari kemudian. Pagi itu tidak hujan, langit justru sangat cerah. Dan entah mengapa, langit yang cerah terasa lebih menyedihkan daripada hujan.
Rumah dipenuhi orang, doa, tangis, bisikan, ucapan belasungkawa. Setelah semua orang pulang, rumah itu menjadi sangat sunyi. Terlalu sunyi.
Ibu duduk sendirian di ruang tengah.
Arif berdiri di dapur, Nisa membuka lemari dan menemukan cangkir kesayangan ayahnya.
Arif berdiri di dapur, Nisa membuka lemari dan menemukan cangkir kesayangan ayahnya.
Cangkir putih dengan garis kecil berwarna biru.
Ia memegangnya lama, kemudian menangis. Bukan karena cangkir itu mahal. Tetapi karena benda-benda kecil sering menyimpan orang-orang yang sudah tidak bisa kita panggil kembali.
Malam pertama setelah pemakaman, mereka makan bertiga, ibu, Arif, Nisa, satu kursi kosong.
Ia memegangnya lama, kemudian menangis. Bukan karena cangkir itu mahal. Tetapi karena benda-benda kecil sering menyimpan orang-orang yang sudah tidak bisa kita panggil kembali.
Malam pertama setelah pemakaman, mereka makan bertiga, ibu, Arif, Nisa, satu kursi kosong.
Tidak ada yang berani duduk di sana, Arif mengambil nasi, Nisa menuangkan air. Ibu menatap kursi kosong itu cukup lama.
"Kenapa tidak ada yang duduk di situ?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab, ibu tersenyum tipis.
"Biarkan."
"Untuk apa, Bu?" tanya Nisa.
"Untuk Ayah."
Nisa menangis, Arif menunduk, ibu mengambil sendok.
"Untuk apa, Bu?" tanya Nisa.
"Untuk Ayah."
Nisa menangis, Arif menunduk, ibu mengambil sendok.
"Selama kita masih ingat, rumah ini tidak pernah benar-benar kehilangan dia."
Malam itu mereka makan tanpa banyak bicara, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tidak membicarakan politik. Mereka membicarakan Ayah, tentang caranya tertawa, tentang kebiasaannya tidur di depan televisi, tentang bagaimana ia selalu mengeluh kalau sambal terlalu pedas, tetapi tetap mengambilnya. tentang kalimatnya yang paling sering terdengar, "Makan dulu."
Mereka tertawa sambil menangis.
Dan malam itu, meja makan terasa seperti dulu.
Hanya satu kursi yang kosong.
Dan malam itu, meja makan terasa seperti dulu.
Hanya satu kursi yang kosong.
Waktu berjalan, luka tidak benar-benar hilang, ia hanya belajar menjadi lebih tenang. Pemilu berikutnya datang, poster kembali memenuhi jalan.
Debat kembali memenuhi televisi, orang-orang kembali memilih, dan Arif serta Nisa kembali berbeda pilihan.
Suatu malam, mereka duduk di meja makan, Arif membaca berita di telepon genggam.
Nisa membaca artikel dari layar laptop.
Nisa membaca artikel dari layar laptop.
"Kamu pilih yang mana?" tanya Arif.
"Rahasia."
"Takut ketahuan?"
"Takut nanti kita berdebat."
Arif tertawa.
"Berarti kamu belajar."
"Belajar dari siapa?"
"Rahasia."
"Takut ketahuan?"
"Takut nanti kita berdebat."
Arif tertawa.
"Berarti kamu belajar."
"Belajar dari siapa?"
Mereka sama-sama melihat kursi kosong di ujung meja, tidak ada yang perlu menjawab.
Hari pencoblosan kembali tiba, Arif dan Nisa berjalan bersama menuju TPS. Ibu tidak ikut, ia memilih menunggu di rumah. Sebelum mereka pergi, Ibu hanya berkata "Jangan lupa pulang."
Hari pencoblosan kembali tiba, Arif dan Nisa berjalan bersama menuju TPS. Ibu tidak ikut, ia memilih menunggu di rumah. Sebelum mereka pergi, Ibu hanya berkata "Jangan lupa pulang."
Kalimat sederhana, tetapi kali ini terdengar berbeda, karena mereka tahu, ada seseorang yang dahulu selalu menunggu mereka pulang dan kini tidak lagi ada di rumah.
Setelah mencoblos, Arif dan Nisa berjalan pulang dalam diam. Di tengah jalan, Nisa berhenti.
"Mas."
"Ya?"
"Kalau Ayah masih ada, kira-kira dia pilih siapa?"
Arif tertawa.
"Rahasia."
"Benar juga."
"Mas."
"Ya?"
"Kalau Ayah masih ada, kira-kira dia pilih siapa?"
Arif tertawa.
"Rahasia."
"Benar juga."
Mereka melanjutkan perjalanan, matahari sore jatuh perlahan di antara pepohonan, bayangan mereka memanjang di jalan. Dua orang, dua pilihan, satu rumah.
Malamnya, mereka kembali duduk di meja makan. Ibu sudah menyiapkan makanan, yiga piring, tetapi empat kursi. Kursi Ayah masih tetap kosong. Arif memandangnya, lalu mengambil nasi.
Malamnya, mereka kembali duduk di meja makan. Ibu sudah menyiapkan makanan, yiga piring, tetapi empat kursi. Kursi Ayah masih tetap kosong. Arif memandangnya, lalu mengambil nasi.
"Bu, aku lapar."
Ibu tersenyum.
"Nah, begitu."
Nisa tertawa.
"Ayah pasti senang."
Ibu tersenyum.
"Nah, begitu."
Nisa tertawa.
"Ayah pasti senang."
Mereka makan, tidak ada perdebatan, tidak ada saling menyalahkan, tidak ada usaha untuk memenangkan argumen. Hanya ada cerita tentang hari itu, tentang hujan yang hampir turun, tentang tetangga yang datang terlambat ke TPS, tentang anak kecil yang membawa payung terlalu besar, tentang kehidupan yang terus berjalan meski seseorang yang kita cintai telah pergi.
Sebelum makan selesai, Nisa menatap kursi kosong itu.
"Bu."
"Ya?"
"Kalau suatu hari kita berbeda pilihan lagi..."
Ibu tersenyum.
"Berbeda saja."
"Kalau berdebat?"
"Debatlah."
"Kalau marah?"
Ibu meletakkan sendoknya.
"Marah boleh."
"Bu."
"Ya?"
"Kalau suatu hari kita berbeda pilihan lagi..."
Ibu tersenyum.
"Berbeda saja."
"Kalau berdebat?"
"Debatlah."
"Kalau marah?"
Ibu meletakkan sendoknya.
"Marah boleh."
Ia menatap kedua anaknya.
"Asal setelah itu tetap pulang."
Nisa tersenyum.
Arif mengangguk.
"Asal setelah itu tetap pulang."
Nisa tersenyum.
Arif mengangguk.
Di luar, hujan akhirnya turun, pelan, seperti suara seseorang yang mengetuk pintu rumah dari kejauhan, dan untuk sesaat, mereka merasa seperti mendengar suara Ayah, bukan dari televisi, bukan dari kamar, bukan dari masa lalu.
Tetapi dari sesuatu yang lebih dalam dari suara, sebuah pesan yang tinggal di hati mereka, kita boleh berbeda dalam menentukan siapa yang kita pilih.
Tetapi jangan pernah berbeda dalam menjaga satu sama lain.
Tetapi jangan pernah berbeda dalam menjaga satu sama lain.
Malam itu, mereka menyisakan satu kursi kosong, bukan karena mereka belum menerima kehilangan. Melainkan karena mereka tahu ada orang-orang yang telah pergi dari rumah, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupan.
Dan mungkin, begitulah keluarga bekerja. Ia tidak selalu menyatukan kita dalam pilihan, ia menyatukan kita dalam perjalanan pulang.
Sebab pada akhirnya, setelah semua suara dihitung, setelah semua nama diumumkan sebagai pemenang atau kalah, setelah spanduk-spanduk diturunkan dan janji-janji politik kembali menjadi kenangan, yang tersisa di meja makan hanyalah orang-orang yang kita cintai.
» CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.
Posting Komentar