Kalau Banyak Orang Tidak Memilih, Siapa yang Menentukan?

Daftar Isi

Siribee.com » Bayangkan sebuah kelas berisi 100 orang. Guru meminta mereka menentukan ketua kelas. Namun, hanya 40 orang yang ikut memilih. Dari 40 orang itu, seseorang memperoleh 21 suara dan akhirnya menjadi ketua. Secara aturan, prosesnya sah.

Tetapi ada pertanyaan yang menarik, bagaimana dengan 60 orang yang tidak ikut menentukan?

Gambaran sederhana itu sebenarnya membantu kita memahami salah satu persoalan dalam demokrasi. Ketika banyak orang tidak menggunakan hak pilih, keputusan politik tetap akan dibuat. Kursi tetap terisi. Pemimpin tetap terpilih. Pemerintahan tetap berjalan.

Yang berubah adalah siapa yang paling banyak menentukan hasilnya.

Inilah hal yang sering luput dari pembicaraan tentang tidak memilih. Orang yang tidak datang ke TPS memang tidak memberikan suaranya kepada kandidat mana pun. Tetapi ketidakhadirannya membuat suara orang lain memiliki pengaruh relatif lebih besar terhadap hasil akhir.

Misalnya, dari 100 orang yang memiliki hak pilih, hanya 50 yang menggunakan haknya. Jika seorang kandidat memperoleh 26 suara, ia bisa menang. Artinya, keputusan tentang kepemimpinan seluruh kelompok dapat ditentukan oleh 26 orang.

Bukan karena 26 orang itu mengambil hak 74 orang lainnya. Melainkan karena demokrasi bekerja berdasarkan mereka yang menggunakan haknya.

Di sinilah memilih memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar mencoblos.

Memilih adalah cara seseorang ikut mengurangi ruang bagi orang lain untuk menentukan sesuatu atas namanya.

Tentu, tidak semua orang yang tidak memilih dapat disebut apatis. Ada yang kecewa, ada yang tidak percaya kepada kandidat, ada yang memiliki alasan pribadi dan ada pula yang menghadapi persoalan administratif atau keadaan yang membuatnya tidak bisa hadir.

Karena itu, masyarakat tidak semestinya hanya disalahkan ketika angka partisipasi turun. Penyelenggara pemilu, peserta pemilu, pemerintah, media dan masyarakat sipil juga memiliki pekerjaan rumah, membuat demokrasi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebab bagi sebagian orang, politik terlihat jauh. Mereka mendengar perdebatan tentang kekuasaan, partai dan jabatan, tetapi tidak selalu melihat hubungan langsungnya dengan harga kebutuhan pokok, pendidikan anak, pekerjaan, pelayanan publik, jalan, listrik, air, hingga masa depan daerah.

Padahal keputusan politik hampir selalu memiliki jalan menuju kehidupan sehari-hari.

Ada satu hal lagi yang lebih penting. Tidak memilih bukan berarti seseorang keluar dari pengaruh hasil pemilu.

Orang yang tidak memilih tetap hidup di bawah kebijakan pemerintah yang terbentuk. Tetap membayar pajak dan mengikuti aturan. Tetap menerima atau merasakan kualitas pelayanan publik. Anak-anaknya tetap bersekolah dalam sistem pendidikan yang kebijakannya ditentukan pemerintah. 

Dengan kata lain, seseorang boleh tidak memilih, tetapi ia tidak bisa sepenuhnya memilih untuk tidak terkena dampak dari hasil pemilu.

Di sinilah demokrasi menjadi menarik. Kita tidak hanya memilih siapa yang kita sukai. Kita sebenarnya sedang menentukan siapa yang akan diberi kewenangan untuk membuat keputusan yang juga akan berdampak kepada orang yang berbeda pilihan dengan kita.

Karena itu, menjadi pemilih tidak harus berarti menjadi penggemar seorang kandidat.

Kita boleh kritis, boleh kecewa, boleh tidak menyukai semua pilihan yang tersedia. Bahkan, setelah pemilu selesai, kita tetap berhak mengawasi dan mengkritik mereka yang terpilih.

Tetapi sebelum semua itu, ada satu kesempatan yang hanya datang pada waktunya, ikut menentukan melalui suara sendiri.

Maka pertanyaan tentang pemilu sebenarnya bukan hanya, “Siapa yang akan saya pilih?”

Ada pertanyaan yang lebih mendasar, “Kalau saya tidak ikut menentukan, siapakah yang akan menentukan untuk saya?”

Demokrasi bukan tentang mencari pilihan yang sempurna. Demokrasi adalah tentang memastikan masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk ikut menentukan arah kekuasaan.

Satu suara mungkin terlihat kecil. Tetapi ketika jutaan suara dikumpulkan, suara yang tampak kecil itu berubah menjadi keputusan besar.

Dan mungkin, di situlah nilai sebenarnya dari sebuah suara, bukan karena satu suara selalu menentukan kemenangan, tetapi karena tanpa suara kita, kita menyerahkan sebagian ruang penentuan kepada mereka yang memilih untuk hadir.

Penulis: Yusri Razali | Editor: Redaksi

Posting Komentar

Satu Tahun Siribee.com