Di Atas Gajah, Semut Mengira Dirinya Penguasa
Cerpen oleh: Lebah Senja
Siribee.com » Di tanoh paling barat Nusantara, di antara lereng Seulawah yang hijau dan laut yang membentang jauh ke ufuk, terdapat sebuah negeri yang oleh para penghuninya disebut Rimba Seulawah. Negeri itu tidak hanya dihuni pepohonan dan satwa liar, tetapi juga kampung-kampung kecil yang tumbuh di sepanjang sungai, persawahan yang menguning menjelang panen, serta jalan-jalan tanah yang setiap pagi dipenuhi langkah para penghuni hutan mencari penghidupan.
Menjelang petang, ketika cahaya matahari mulai jatuh di balik pegunungan, angin membawa suara azan dari kampung-kampung yang tersebar di kejauhan. Burung-burung kembali ke sarang, rusa-rusa meninggalkan padang dan monyet-monyet bergegas menuju pepohonan tempat mereka bermalam. Pada waktu seperti itulah, Rimba Seulawah biasanya menjadi tenang. Namun ketenangan itu tidak selalu berarti tidak ada yang sedang terjadi.
Di negeri itu hidup seekor gajah bernama Meurah.
Tubuhnya besar dan langkahnya berat, jika ia berjalan melewati jalan kampung, tanah seperti ikut bergetar di bawah telapak kakinya. Namun bukan ukuran tubuh yang membuat Meurah disegani, ia telah melewati banyak musim, melihat hutan tumbuh dan berubah, menyaksikan perselisihan antarkelompok dan memahami bahwa sebuah negeri tidak akan bertahan hanya karena memiliki pemimpin yang kuat.
Karena itu, banyak penghuni Rimba Seulawah datang kepadanya. Rusa membawa persoalan kampung, burung membawa kabar dari pesisir, monyet-monyet datang dengan keluhan tentang wilayah mereka. Meurah mendengarkan semuanya dengan sabar, ia tidak selalu mampu menyelesaikan setiap persoalan, tetapi ia percaya bahwa seorang pemimpin setidaknya harus tahu apa yang sedang dirasakan mereka yang dipimpinnya.
Di dekat Meurah, hampir selalu ada seekor semut kecil bernama Sabit.
Tidak ada yang istimewa dari tubuh Sabit, ia kecil, ringan dan mudah terinjak jika tidak berhati-hati. Namun Sabit memiliki kecerdikan yang tidak dimiliki banyak penghuni hutan, ia pandai membaca keadaan, ia tahu kapan seekor gajah sedang naik daun, tahu kelompok mana yang sedang mendekat dan tahu siapa yang harus disapa ketika angin kekuasaan mulai berubah arah.
Bagi Sabit, kekuasaan bukan sekadar siapa yang duduk di kursi tertinggi, kekuasaan adalah tentang siapa yang berada paling dekat dengan kursi itu.
Ketika musim pemilihan tiba, seluruh Rimba Seulawah berubah.
Jalan-jalan kampung menjadi lebih ramai, pertemuan digelar dari satu tempat ke tempat lain, para binatang mulai berbicara tentang masa depan hutan, tentang jalan yang rusak, sungai yang semakin dangkal, hasil kebun yang menurun dan kehidupan kampung yang membutuhkan perhatian.
Nama Meurah kemudian muncul dalam banyak percakapan.
Ada yang menganggapnya mampu menjaga keseimbangan hutan, ada yang percaya pengaruhnya cukup besar untuk menyatukan kelompok-kelompok yang selama ini saling curiga, ada pula yang melihatnya sebagai sosok yang dapat membawa perubahan tanpa membuat hutan semakin terpecah.
Sabit melihat semua itu sebagai sebuah kesempatan.
Pada suatu sore, ia mendekati Meurah ketika gajah besar itu sedang berdiri di tepi sungai.
“Kalau engkau memutuskan maju,” kata Sabit, “aku bisa membantu.”
Meurah menoleh. “Membantu apa?”
“Menghubungkan kelompok-kelompok yang selama ini sulit diajak bicara, mengumpulkan mereka yang mendukungmu, menjaga agar pesanmu sampai ke seluruh penjuru hutan.”
Jika Meurah naik, pikirnya, bukankah dirinya juga akan ikut naik?
Sejak hari itu, Sabit mulai bergerak, ia mendatangi kelompok monyet di pinggir hutan, berbicara dengan rusa-rusa di padang, dan terbang bersama burung-burung yang biasa membawa kabar dari satu wilayah ke wilayah lain. Kepada setiap kelompok, ia membawa pesan yang berbeda, tetapi semuanya berujung pada satu nama Meurah.
Awalnya tidak ada yang curiga, Sabit memang terlihat dekat dengan Meurah, ia sering terlihat berjalan di samping kaki gajah itu. Kadang-kadang bahkan ia tidur di bawah pohon yang sama.
Namun perlahan, sesuatu mulai berubah, Sabit tidak lagi sekadar menyampaikan pesan.
Ia mulai menentukan siapa yang boleh mendekati Meurah dan siapa yang harus menunggu, ia mulai memilih kelompok mana yang pantas diajak bicara dan kelompok mana yang dianggap merepotkan.
Tanpa disadari banyak orang, seekor semut kecil telah mulai membangun pintu di depan kekuasaan, dan ia berdiri di tengah pintu itu.
Hari pemilihan akhirnya tiba, sejak pagi, seluruh Rimba Seulawah dipenuhi suara, para penghuni hutan berkumpul di tempat-tempat yang telah ditentukan, menjelang sore, hasil mulai diketahui.
Meurah mendapatkan kepercayaan, sorak-sorai terdengar dari berbagai penjuru.
Sabit berada di tengah kerumunan, ketika beberapa binatang datang menyalaminya dan berkata, “Selamat, orang dekat Meurah,” ada sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya.
Dari sana, dunia tampak berbeda, pohon-pohon terlihat lebih rendah, jalan-jalan kampung membentang seperti garis tipis, rusa, monyet, dan semut-semut lain tampak begitu kecil di bawah sana.
Sabit memandang semuanya dari atas, untuk pertama kalinya, ia merasa besar.
Ia lupa bahwa tubuhnya masih sama, ia lupa bahwa kakinya masih sekecil sebelumnya, ia lupa bahwa jika Meurah berhenti berjalan, dirinya pun tidak akan bergerak ke mana-mana.
Di atas punggung gajah, seekor semut mulai mengira bahwa ketinggian adalah kebesaran.
Waktu berlalu, keluhan mulai berdatangan. Seekor rusa dari kampung sebelah sungai datang menemui Sabit.
Namun satu per satu keluhan itu berhenti di hadapan Sabit, sebagian tidak pernah sampai kepada Meurah, sebagian lagi disampaikan setelah terlebih dahulu diubah.
Sabit mulai memilih cerita mana yang perlu didengar Meurah dan mana yang cukup disimpan sendiri, semakin banyak suara yang berhenti di tangannya, semakin besar perasaan bahwa dirinya dibutuhkan.
Tanpa sadar, Sabit telah melakukan sesuatu yang berbahaya, ia tidak lagi sekadar berada dekat dengan kekuasaan, tetapi mulai merasa dirinya adalah bagian dari kekuasaan itu sendiri.
Malam itu ia memanggil Sabit, “Kenapa banyak penghuni hutan merasa tidak bisa berbicara kepadaku?”
Sabit mencoba tersenyum, “Aku hanya membantu menyaring persoalan agar tidak semuanya sampai kepadamu.”
Pertanyaan itu membuat Sabit kehilangan kata-kata. Meurah menatapnya lama.
“Aku memberimu tempat di dekatku agar kau membantuku melihat apa yang tidak bisa kulihat, bukan agar kau menjadi mata, telinga, dan mulut yang menggantikanku.”
Sabit tahu posisinya mulai terancam. Selama ini ia percaya bahwa kedekatannya dengan Meurah adalah sumber kekuatannya, kini ia sadar, jika Meurah menariknya turun, semua yang telah dibangunnya bisa runtuh dalam sekejap.
Maka Sabit mencari jalan lain, ia mulai mendatangi kelompok-kelompok yang kecewa kepada Meurah, ia berbicara perlahan, tidak pernah secara terbuka menyerang, tetapi selalu meninggalkan keraguan.
Kata-kata itu berpindah dari satu sarang ke sarang lainnya. Sebagian percaya, sebagian tidak.
Namun dalam politik, terkadang keraguan kecil sudah cukup untuk membuat sebuah hutan terpecah.
Rimba Seulawah mulai gaduh, di warung-warung pinggir kampung, para penghuni hutan membicarakan siapa yang sebenarnya mengambil keputusan. Di bawah pohon-pohon tua, kelompok-kelompok kecil mulai berkumpul, kawan mulai saling mencurigai, mereka yang dahulu berjalan bersama mulai memilih jalan yang berbeda.
Dan di tengah semua itu, nama Meurah terus disebut. Tetapi semakin sering namanya disebut, semakin sedikit yang tahu apakah keputusan itu benar-benar berasal darinya.
Pada suatu malam, Meurah akhirnya memutuskan untuk berbicara langsung kepada seluruh penghuni Rimba Seulawah.
Ia berdiri di lapangan terbuka ketika bulan hampir mencapai puncaknya, tidak ada panggung, tidak ada jarak yang dibuat untuk memisahkan dirinya dari mereka yang datang. Hanya Meurah, tanah yang dipijaknya dan ratusan pasang mata yang menunggu.
Sabit berdiri di antara kerumunan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berada di tanah. Meurah memandang seluruh penghuni hutan.
“Selama ini aku mengira mereka yang berada di dekatku membantuku mendengar suara kalian,” katanya perlahan. “Tetapi belakangan aku mengetahui bahwa ada suara yang berhenti sebelum sampai kepadaku.”
Suasana semakin sunyi, kemudian pandangan Meurah berhenti pada Sabit.
“Kau pernah datang kepadaku sebagai semut kecil yang ingin membantu.”
Sabit menundukkan kepala. “Aku memberimu tempat di punggungku karena kukira dari sana kau bisa melihat lebih banyak.”
Sabit terdiam. Kemudian Meurah mengucapkan kalimat yang membuat lapangan itu seolah kehilangan suara.
Kalimat itu terlalu dekat dengan kenyataan yang baru saja mereka saksikan.
Sabit menatap tanah di bawah kakinya. Baru saat itulah ia memahami sesuatu yang selama ini tertutup oleh ketinggian.
Ia tidak pernah menjadi besar, ia hanya berdiri di atas sesuatu yang besar.
Ketika Meurah berjalan, ia ikut bergerak, ketika Meurah berhenti, ia ikut berhenti, ketika Meurah turun, ia tidak punya tempat untuk bersembunyi.
Kekuasaan yang selama ini ia kira miliknya ternyata hanyalah bayangan dari kekuasaan orang lain.
Sabit perlahan meninggalkan kerumunan, tidak ada yang menghalanginya, tidak ada pula yang memanggilnya kembali.
Ia berjalan melewati rerumputan yang basah oleh embun malam, melewati jalan kecil menuju sarangnya, sementara dari kejauhan suara azan kembali terdengar dari sebuah kampung.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar kecil.
Anehnya, ia tidak lagi malu, sebab menjadi kecil ternyata bukanlah kehinaan, yang memalukan adalah ketika seekor semut menjadi sombong hanya karena kebetulan berdiri di tempat yang tinggi.
Pagi berikutnya, Meurah kembali berjalan menyusuri kampung-kampung.
Ia melewati sawah yang mulai menguning, menyeberangi sungai, lalu berhenti di sebuah kampung kecil di kaki Seulawah. Para penghuni hutan datang membawa persoalan masing-masing.
Kali ini tidak ada Sabit yang berdiri di antara mereka, Meurah mendengar sendiri.
Tidak semua persoalan mampu ia selesaikan, tidak semua permintaan dapat ia penuhi, tetapi setidaknya tidak ada lagi suara yang terhenti di tengah jalan.
Sementara itu, jauh di belakangnya, Sabit berjalan bersama semut-semut lain, ia tidak lagi mengejar tempat di atas.
Ia mulai memahami bahwa dalam kehidupan, terutama dalam kekuasaan, seseorang tidak selalu diingat karena seberapa tinggi ia pernah berdiri.
Ia lebih mungkin diingat karena apa yang dilakukannya ketika memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi orang lain.
Sebab kursi dapat berganti, kekuasaan dapat berpindah, kawan dapat berubah menjadi lawan dan lawan dapat kembali menjadi kawan.
Tetapi jejak yang ditinggalkan seorang pemimpin akan tetap tinggal jauh setelah suara tepuk tangan menghilang.
Dan sejak hari itu, para penghuni Rimba Seulawah memiliki satu ungkapan yang sering mereka bisikkan kepada siapa pun yang mulai mabuk oleh kekuasaan.
Jangan terlalu bangga ketika berada di atas. Bisa jadi yang membuatmu terlihat tinggi bukan karena dirimu besar, melainkan karena engkau sedang berdiri di atas gajah.
Sebab pada akhirnya, yang menentukan kebesaran seseorang bukanlah tempat ia berdiri.
Melainkan bagaimana ia bersikap ketika suatu hari harus turun dan kembali berdiri di atas tanah yang sama dengan semua orang.
» CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.

Posting Komentar