Secangkir Kopi di Sepertiga Malam

Daftar Isi

Malam selalu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah tergesa-gesa. Perlahan ia menghapus warna jingga di ufuk barat, menyalakan bintang-bintang, lalu membungkus bumi dengan kesunyian yang hanya dipahami oleh mereka yang mencintainya.

Di saat rumah-rumah memadamkan lampu dan manusia menyerahkan lelahnya kepada tidur, masih ada segelintir jiwa yang justru memulai harinya. Mereka bukan pemburu dunia. Mereka adalah para pencari cahaya.

Di sebuah zawiyah sederhana di tepian kota tua, seorang lelaki renta duduk bersila di atas tikar yang mulai pudar warnanya. Wajahnya dipenuhi garis-garis usia, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Di hadapannya terbentang mushaf Al-Qur'an yang telah menguning dimakan waktu. Di sampingnya, sebuah cangkir tanah liat mengepulkan aroma kopi hitam yang pekat.

Ia mengangkat cangkir itu perlahan.

Bukan untuk menikmati pahitnya.

Bukan pula untuk mencari kenikmatan dunia.

Tetapi agar kelopak matanya tetap setia menemani hati yang sedang berjalan menuju Tuhannya.

"Ya Allah," bisiknya lirih, "jangan biarkan mataku terjaga sementara hatiku tertidur."

Ia menyesap kopi itu sedikit demi sedikit. Pahitnya menyentuh lidah, hangatnya mengalir hingga ke dada. Namun ada rasa lain yang tak mampu dijelaskan oleh siapa pun. Rasa rindu yang tak pernah menemukan ujungnya.

Konon, berabad-abad silam, para sufi di tanah Yaman meminum kopi sebelum menghidupkan malam dengan zikir dan salat. Mereka menyebutnya bukan minuman kemewahan, melainkan teman perjalanan. Secangkir kopi hanyalah perahu kecil yang membantu mereka menyeberangi lautan kantuk agar dapat sampai pada pantai munajat.

Mereka tahu, musuh terbesar seorang pencinta bukanlah kemiskinan atau kesendirian.

Melainkan rasa lalai.

Malam semakin larut.

Angin berbisik lembut melalui celah-celah jendela kayu. Nyala pelita bergoyang pelan, seakan ikut berdzikir bersama penghuni ruangan itu. Tak ada suara selain lembaran Al-Qur'an yang dibalik, tasbih yang bergulir di antara jemari, dan sesekali bunyi cangkir yang kembali diletakkan dengan penuh hormat.

Setiap tegukan kopi seolah berkata,

"Bertahanlah sedikit lagi... mungkin malam ini doa-doamu akan sampai."

Lelaki itu menangis.

Bukan karena hidupnya berat.

Bukan karena dunia telah mengecewakannya.

Ia menangis karena menyadari betapa sedikit rasa syukur yang telah ia persembahkan kepada Tuhan yang tak pernah berhenti memberinya kehidupan.

Air mata jatuh membasahi sajadah.

Di luar, dunia masih tertidur. Tak ada yang melihat tangisnya. Tak ada tepuk tangan. Tak ada pujian. Hanya Allah yang menjadi saksi.

Dan bukankah ibadah yang paling indah adalah ketika hanya Allah yang mengetahui?

Ia kembali menyesap kopinya.

Kini cangkir itu hampir kosong.

Namun justru ketika kopi mulai habis, hatinya terasa semakin penuh. Seolah setiap teguk telah mengikis debu-debu kesombongan, menggantinya dengan kerendahan hati.

Ia teringat ucapan gurunya dahulu,

"Jangan bangga karena mampu menghabiskan banyak cangkir kopi. Banggalah jika setiap teguk membuatmu semakin dekat kepada Allah. Sebab kopi tidak pernah membawa seseorang ke surga. Yang membawamu adalah hati yang hidup ketika mengingat-Nya."

Malam terus berjalan menuju fajar.

Langit perlahan berubah warna.

Adzan Subuh tinggal menunggu waktu.

Lelaki tua itu menatap cangkir kosong di hadapannya. Ia tersenyum. Baginya, kopi itu hanyalah teman seperjalanan. Bukan tujuan.

Tujuannya adalah Allah.

Kopi hanyalah pengingat bahwa tubuh ini lemah, mudah mengantuk, mudah menyerah. Sedangkan jiwa selalu merindukan untuk lebih lama bersujud.

Fajar pun datang.

Burung-burung mulai bernyanyi.

Orang-orang terbangun untuk memulai urusan dunia, sementara lelaki itu telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanannya bersama langit.

Ia berdiri, merapikan sajadahnya, lalu memandang cangkir yang kini telah dingin.

Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik,

"Terima kasih telah membantuku terjaga malam ini. Namun yang sesungguhnya menghidupkan hatiku bukanlah kopimu, melainkan kasih sayang Allah yang masih mengizinkanku menyebut nama-Nya hingga terbit fajar."

Sejak saat itu, setiap kali seseorang mencium aroma kopi di sepertiga malam, mungkin yang sesungguhnya sedang tercium bukan hanya harum biji yang disangrai. Mungkin itu adalah jejak rindu para pencari Tuhan, mereka yang memilih berjaga ketika dunia terlelap, mereka yang menjadikan malam sebagai ruang pertemuan dengan Sang Kekasih.

Karena bagi para pencinta, secangkir kopi bukan sekadar minuman.

Ia adalah saksi bisu dari doa-doa yang dipanjatkan dalam gelap, air mata yang jatuh tanpa diketahui manusia dan kerinduan yang hanya dipahami oleh Allah. []

Posting Komentar