Senja yang Terluka di Bukit Lamreh
Senja selalu punya cara untuk membuat manusia berhenti sejenak dari kesibukan hidupnya. Begitu pula sore itu di Bukit Lamreh, sebuah surga kecil di ujung Aceh yang menghadap langsung ke Selat Malaka.
Langit perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang menaungi laut kini berbaur dengan jingga keemasan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantul di permukaan air, menciptakan kilauan yang menari-nari di antara ombak.
Raka berdiri di bibir tebing sambil menarik napas panjang.
"Indah sekali," gumamnya.
Di sampingnya, Nisa sibuk mengabadikan pemandangan dengan kamera ponsel. Mereka sengaja datang menjelang sore. Tidak ada tujuan lain selain menikmati matahari terbenam yang selama ini hanya mereka lihat dari foto-foto media sosial.
Bukit Lamreh sore itu ramai oleh wisatawan. Anak-anak berlarian di rerumputan. Sekelompok mahasiswa duduk melingkar sambil bercanda. Beberapa pasangan menikmati senja dengan tenang. Semua larut dalam keindahan yang disajikan alam.
Tak ada yang menyangka bahwa di balik panorama yang menenangkan itu, tersimpan cerita yang berbeda.
Ketika matahari semakin rendah dan sebagian pengunjung mulai mencari posisi terbaik untuk menikmati sunset, beberapa pria menghampiri Raka dan Nisa.
Wajah mereka terlihat serius.
"Kalian tadi melakukan sesuatu yang tidak pantas di sini," kata salah seorang.
Raka menoleh dengan bingung.
"Maksudnya?"
"Kami melihat sendiri."
"Apa yang kami lakukan?"
"Tidak perlu banyak bicara."
Nada suaranya terdengar menghakimi.
Nisa mencoba menjelaskan bahwa mereka hanya berjalan-jalan dan mengambil foto. Namun tuduhan itu terus dilontarkan tanpa penjelasan yang jelas.
Percakapan berubah menjadi tekanan.
Lalu muncullah kalimat yang membuat suasana semakin tidak nyaman.
"Kalau mau selesai baik-baik, ada jalan damai."
Raka mulai memahami maksudnya.
"Jalan damai seperti apa?"
"Bayar saja. Biar urusannya selesai."
Angka yang disebutkan membuat mereka terkejut.
Jutaan rupiah.
Senja yang beberapa saat lalu terasa hangat mendadak menjadi dingin.
Raka memandang laut yang terbentang di depannya. Sulit baginya memahami bagaimana tempat yang begitu indah bisa menjadi panggung bagi tindakan yang mencederai kepercayaan orang lain.
Beberapa hari kemudian, sebuah video beredar luas di media sosial.
Video itu memperlihatkan pengalaman serupa yang dialami wisatawan lain di Bukit Lamreh. Dalam rekaman tersebut terdengar keluhan mengenai dugaan pemerasan berkedok penyelesaian masalah secara kekeluargaan.
Video itu viral.
Ribuan komentar membanjiri berbagai platform.
Ada yang marah.
Ada yang kecewa.
Ada pula yang mengaku pernah mengalami kejadian serupa tetapi memilih diam karena takut persoalan menjadi panjang.
Nama Bukit Lamreh mendadak menjadi pembicaraan dimana-mana.
Bukan karena tebingnya yang memesona.
Bukan karena sunset-nya yang menakjubkan.
Melainkan karena dugaan praktik yang mencoreng citra pariwisata.
Di berbagai warung kopi di Banda Aceh, orang-orang mulai membicarakannya.
"Kalau benar seperti itu, sangat disayangkan," kata seorang lelaki tua sambil menyeruput kopi.
"Orang datang untuk menikmati alam, bukan untuk merasa takut."
Semua mengangguk setuju.
Aceh selama ini berusaha membangun citra sebagai daerah yang aman, religius dan ramah terhadap wisatawan. Keindahan alamnya menjadi daya tarik yang tidak ternilai.
Namun satu peristiwa dapat meninggalkan luka yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Perhatian publik semakin besar ketika berbagai pihak mulai angkat bicara.
Tokoh masyarakat, pegiat pariwisata, hingga kalangan politik meminta persoalan tersebut diusut secara tuntas.
Mereka menilai tindakan yang merugikan wisatawan tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak wajah pariwisata Aceh.
Aparat penegak hukum kemudian bergerak.
Penyelidikan dilakukan.
Sejumlah pihak dimintai keterangan.
Harapan masyarakat pun tumbuh.
Bukan hanya untuk mengungkap siapa yang salah, tetapi juga untuk mengembalikan kepercayaan yang sempat terluka.
Beberapa minggu kemudian, Raka kembali membuka foto-foto yang diambilnya di Bukit Lamreh.
Di layar ponselnya, senja itu masih tampak sempurna.
Matahari yang hampir tenggelam.
Langit berwarna jingga.
Laut yang tenang.
Semua terlihat begitu damai.
Namun kali ini ia memahami sesuatu.
Keindahan alam tidak cukup dijaga dengan pagar atau tiket masuk.
Keindahan harus dijaga dengan kejujuran.
Dengan keramahan.
Dengan rasa hormat kepada setiap orang yang datang.
Raka lalu menulis sebuah kalimat di akun media sosialnya:
"Bukit Lamreh tidak terluka oleh ombak yang menghantam tebingnya setiap hari. Ia terluka ketika keindahan yang dimilikinya tidak diiringi oleh kejujuran manusia yang menjaganya."
Tulisan itu dibagikan ratusan kali.
Karena banyak orang merasa bahwa kalimat itu mewakili perasaan mereka.
Matahari boleh tenggelam setiap petang.
Senja boleh berakhir setiap hari.
Tetapi kebenaran tidak boleh ikut tenggelam.
Dan di atas Bukit Lamreh, langit senja terus menjadi saksi.
Saksi atas keindahan.
Saksi atas luka.
Saksi bahwa pada akhirnya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Sebab senja mungkin terluka.
Namun harapan tidak pernah benar-benar padam.
| Cerpen ini ditulis oleh: Lebah Senja

Posting Komentar