Senja yang Terluka di Bukit Lamreh
Cerpen oleh: Lebah Senja
Langit perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang menaungi laut kini berbaur dengan jingga keemasan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantul di permukaan air, menciptakan kilauan yang menari-nari di antara ombak.
Raka berdiri di bibir tebing sambil menarik napas panjang.
"Indah sekali," gumamnya.
Di sampingnya, Nisa sibuk mengabadikan pemandangan dengan kamera ponsel. Mereka sengaja datang menjelang sore. Tidak ada tujuan lain selain menikmati matahari terbenam yang selama ini hanya mereka lihat dari foto-foto media sosial.
Bukit Lamreh sore itu ramai oleh wisatawan. Anak-anak berlarian di rerumputan. Sekelompok mahasiswa duduk melingkar sambil bercanda. Beberapa pasangan menikmati senja dengan tenang. Semua larut dalam keindahan yang disajikan alam.
Tak ada yang menyangka bahwa di balik panorama yang menenangkan itu, tersimpan cerita yang berbeda.
Ketika matahari semakin rendah dan sebagian pengunjung mulai mencari posisi terbaik untuk menikmati sunset, beberapa pria menghampiri Raka dan Nisa.
Nisa mencoba menjelaskan bahwa mereka hanya berjalan-jalan dan mengambil foto. Namun tuduhan itu terus dilontarkan tanpa penjelasan yang jelas.
Lalu muncullah kalimat yang membuat suasana semakin tidak nyaman.
Senja yang beberapa saat lalu terasa hangat mendadak menjadi dingin.
Raka memandang laut yang terbentang di depannya. Sulit baginya memahami bagaimana tempat yang begitu indah bisa menjadi panggung bagi tindakan yang mencederai kepercayaan orang lain.
Beberapa hari kemudian, sebuah video beredar luas di media sosial.
Video itu memperlihatkan pengalaman serupa yang dialami wisatawan lain di Bukit Lamreh. Dalam rekaman tersebut terdengar keluhan mengenai dugaan pemerasan berkedok penyelesaian masalah secara kekeluargaan.
Di berbagai warung kopi di Banda Aceh, orang-orang mulai membicarakannya.
"Kalau benar seperti itu, sangat disayangkan," kata seorang lelaki tua sambil menyeruput kopi.
"Orang datang untuk menikmati alam, bukan untuk merasa takut."
Semua mengangguk setuju.
Aceh selama ini berusaha membangun citra sebagai daerah yang aman, religius dan ramah terhadap wisatawan. Keindahan alamnya menjadi daya tarik yang tidak ternilai.
Perhatian publik semakin besar ketika berbagai pihak mulai angkat bicara.
Tokoh masyarakat, pegiat pariwisata, hingga kalangan politik meminta persoalan tersebut diusut secara tuntas.
Mereka menilai tindakan yang merugikan wisatawan tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak wajah pariwisata Aceh.
» CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.

Posting Komentar