Langit Tak Pernah Berdusta

Daftar Isi

Malam merambat perlahan di Jakarta. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantulkan cahaya ke langit yang mulai gelap. 

Di sebuah kafe kecil di sudut kota, tak jauh dari jalan yang setiap hari dipenuhi kemacetan dan janji-janji politik, seorang pria tua duduk sendirian memandangi secangkir kopi yang hampir dingin.

Namanya Rahman.

Usianya enam puluh tahun.

Dahulu ia seorang jurnalis.

Kini ia hanya pelanggan tetap yang lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Kafe itu unik. Setiap malam dipenuhi orang-orang dengan pandangan berbeda. Ada mahasiswa yang berdebat soal demokrasi, aktivis yang mengkritik pemerintah, politisi muda yang gemar berbicara tentang perubahan, dan pekerja kantoran yang hanya ingin melepas lelah setelah seharian bekerja.

Malam itu televisi di sudut ruangan menyiarkan berita politik.

Seorang pejabat sedang berpidato.

"Kita harus menjaga demokrasi dengan jujur dan adil," katanya.

Sebagian pengunjung bertepuk tangan.

Sebagian mencibir.

Sebagian lagi sibuk dengan telepon genggamnya.

Rahman hanya tersenyum tipis.

Ia sudah terlalu lama hidup untuk percaya bahwa setiap kata yang diucapkan di depan kamera adalah kebenaran.

Di meja sebelah, perdebatan mulai memanas.

"Demokrasi kita semakin matang," kata seorang pemuda.

"Tidak," sahut yang lain. "Demokrasi kita hanya dipenuhi pencitraan."

"Setidaknya rakyat masih bisa memilih."

"Memilih apa? Jika yang disajikan hanya pilihan yang sama?"

Suara mereka semakin keras.

Masing-masing merasa benar.

Masing-masing memiliki data.

Masing-masing memiliki argumen.

Namun Rahman melihat sesuatu yang berbeda.

Ia melihat bagaimana manusia sering lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada mencari kebenaran.

Seorang pelayan muda mendekatinya.

"Bapak tidak ikut berpendapat?"

Rahman tertawa kecil.

"Dulu saya juga seperti mereka."

"Lalu sekarang?"

"Sekarang saya lebih suka mendengarkan."

"Kenapa?"

Rahman menatap keluar jendela.

Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta.

"Karena saya sadar, suara paling keras belum tentu paling benar."

Pelayan itu terdiam.

Rahman melanjutkan.

"Demokrasi memberi hak kepada semua orang untuk berbicara. Tapi demokrasi tidak otomatis membuat semua ucapan menjadi benar."

Puluhan tahun menjadi jurnalis membuat Rahman menyaksikan banyak hal.

Ia pernah melihat orang jujur dikalahkan oleh fitnah.

Ia pernah melihat kebohongan diulang begitu sering hingga dianggap fakta.

Ia pernah melihat media dibeli.

Ia pernah melihat suara rakyat digunakan sebagai tangga kekuasaan.

Namun ia juga pernah melihat kebenaran yang akhirnya muncul meskipun bertahun-tahun disembunyikan.

Kebenaran selalu menemukan jalannya.

Seperti air yang merembes melalui celah terkecil.

Atau seperti cahaya yang menembus tirai paling tebal.

Malam semakin larut.

Perdebatan di kafe masih berlangsung.

Televisi masih menyiarkan berita.

Media sosial masih dipenuhi saling tuduh.

Semua orang berbicara.

Semua orang ingin didengar.

Namun sedikit yang benar-benar mau mendengar.

Rahman berdiri dari kursinya.

Ia berjalan keluar kafe.

Hujan telah reda.

Langit Jakarta mulai memperlihatkan beberapa bintang yang malu-malu muncul di antara awan.

Ia menengadah.

Lalu teringat kalimat yang pernah diajarkan ayahnya puluhan tahun lalu.

"Jika manusia mulai bingung membedakan mana suara dan mana kebenaran, tengadahlah ke langit. Karena langit tidak pernah berdusta."

Rahman tersenyum.

Demokrasi memang memberi ruang bagi setiap orang untuk berbicara.

Tetapi demokrasi yang sehat tidak dibangun oleh suara yang paling keras.

Ia dibangun oleh keberanian untuk jujur.

Oleh kesediaan menerima fakta.

Oleh kerendahan hati untuk mengakui kesalahan.

Dan oleh keyakinan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah tepuk tangan.

Di bawah langit Jakarta yang mulai cerah, Rahman kembali melangkah.

Di belakangnya, kafe kecil itu masih dipenuhi perdebatan.

Di atasnya, langit tetap diam.

Namun diamnya menyimpan satu pesan yang tidak pernah berubah:

Manusia boleh berbeda pilihan.

Manusia boleh berbeda pendapat.

Tetapi kebenaran tidak pernah mengikuti suara terbanyak.

Karena langit tak pernah berdusta.

| Cerpen ini ditulis oleh: Yusri Razali

Posting Komentar