Langit Tak Pernah Berdusta
Cerpen ini ditulis oleh: Lebah Senja *)
Siribee.com » Malam merambat perlahan di Jakarta. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantulkan cahaya ke langit yang mulai gelap.
Di sebuah kafe kecil di sudut kota, tak jauh dari jalan yang setiap hari dipenuhi kemacetan dan janji-janji politik, seorang pria tua duduk sendirian memandangi secangkir kopi yang hampir dingin.
Kini ia hanya pelanggan tetap yang lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Kafe itu unik. Setiap malam dipenuhi orang-orang dengan pandangan berbeda. Ada mahasiswa yang berdebat soal demokrasi, aktivis yang mengkritik pemerintah, politisi muda yang gemar berbicara tentang perubahan, dan pekerja kantoran yang hanya ingin melepas lelah setelah seharian bekerja.
Malam itu televisi di sudut ruangan menyiarkan berita politik.
Ia sudah terlalu lama hidup untuk percaya bahwa setiap kata yang diucapkan di depan kamera adalah kebenaran.
"Tidak," sahut yang lain. "Demokrasi kita hanya dipenuhi pencitraan."
Ia melihat bagaimana manusia sering lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada mencari kebenaran.
"Karena saya sadar, suara paling keras belum tentu paling benar."
"Demokrasi memberi hak kepada semua orang untuk berbicara. Tapi demokrasi tidak otomatis membuat semua ucapan menjadi benar."
Puluhan tahun menjadi jurnalis membuat Rahman menyaksikan banyak hal.
Ia pernah melihat orang jujur dikalahkan oleh fitnah.
Ia pernah melihat kebohongan diulang begitu sering hingga dianggap fakta.
Ia pernah melihat media dibeli.
Ia pernah melihat suara rakyat digunakan sebagai tangga kekuasaan.
Namun ia juga pernah melihat kebenaran yang akhirnya muncul meskipun bertahun-tahun disembunyikan.
Langit Jakarta mulai memperlihatkan beberapa bintang yang malu-malu muncul di antara awan.
"Jika manusia mulai bingung membedakan mana suara dan mana kebenaran, tengadahlah ke langit. Karena langit tidak pernah berdusta."
Tetapi demokrasi yang sehat tidak dibangun oleh suara yang paling keras.
Dan oleh keyakinan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah tepuk tangan.
*) CATATAN: Cerpen ini hadir sebagai karya fiksi dari ruang imajinasi penulis. Tokoh, nama, tempat, peristiwa dan kisah yang terjalin di dalamnya merupakan rekaan. Kemiripan dengan kenyataan atau pihak tertentu tidak dimaksudkan sebagai penggambaran nyata.

Posting Komentar