Abu Doto Telah Pergi, Jejak Pembangunannya Tetap Hidup
![]() |
| dr. H. Zaini Abdullah |
Aceh kembali berduka. dr. H. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto meninggal pada 13 Juni 2026 dalam usia 86 tahun. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kehilangan bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga bagi masyarakat Aceh yang mengenalnya sebagai tokoh perjuangan, perintis perdamaian dan pemimpin yang meninggalkan jejak pembangunan nyata di tanah rencong.
Abu Doto bukanlah sosok biasa dalam perjalanan sejarah Aceh. Ia merupakan salah satu pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri serta Menteri Kesehatan GAM. Bertahun-tahun ia berada di garis depan perjuangan politik Aceh di tingkat internasional, hingga akhirnya ikut berperan dalam proses perdamaian yang melahirkan MoU Helsinki tahun 2005.
Setelah perdamaian tercapai, Abu Doto memilih melanjutkan pengabdiannya melalui jalur pemerintahan. Ketika dipercaya menjadi Gubernur Aceh periode 2012–2017, ia membawa semangat yang sama, membangun Aceh yang damai, bermartabat dan maju melalui pembangunan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Revitalisasi Masjid Raya Baiturrahman
Salah satu warisan paling monumental dari kepemimpinannya adalah revitalisasi Masjid Raya Baiturrahman. Di bawah pemerintahannya, masjid yang menjadi simbol identitas Aceh itu mengalami transformasi besar-besaran. Kawasan masjid ditata ulang dengan pelataran marmer yang luas, fasilitas modern, area bawah tanah, serta ruang publik yang lebih representatif.
Payung Elektrik yang Menjadi Ikon Aceh
Namun yang paling melekat dalam ingatan masyarakat adalah pembangunan 12 payung elektrik raksasa yang kini menjadi ikon baru Aceh. Terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah, payung-payung tersebut tidak hanya memberikan kenyamanan bagi jamaah, tetapi juga mengangkat citra Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu destinasi wisata religi paling terkenal di Indonesia.
Setiap hari, ribuan orang beribadah, berwisata dan mengabadikan momen di bawah payung-payung tersebut. Bagi banyak orang, payung Baiturrahman adalah simbol modernisasi Aceh yang lahir dari visi pembangunan Abu Doto.
Jembatan Lamnyong dan Konektivitas Pendidikan
Dalam sektor transportasi, Abu Doto juga meninggalkan jejak penting melalui pembangunan Jembatan Lamnyong yang membantu memperlancar akses menuju kawasan pendidikan Darussalam. Infrastruktur ini menjadi solusi bagi meningkatnya aktivitas masyarakat di kawasan yang menjadi pusat pendidikan tinggi Aceh tersebut.
Perjuangan Menghadirkan Tol Pertama Aceh
Di bidang konektivitas regional, nama Abu Doto juga tidak bisa dilepaskan dari perjuangan menghadirkan Jalan Tol Sigli–Banda Aceh. Meskipun pembangunan fisiknya dimulai setelah masa jabatannya berakhir, berbagai komunikasi, dukungan politik dan lobi kepada pemerintah pusat telah dilakukan sejak ia masih menjabat gubernur.
Hari ini, tol pertama di Aceh itu telah menjadi simbol keterhubungan Aceh dengan jaringan Tol Trans Sumatra sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
Gagasan Flyover untuk Banda Aceh Modern
Begitu pula dengan gagasan pembangunan flyover di Banda Aceh. Ketika pertumbuhan kendaraan mulai meningkat dan kebutuhan infrastruktur perkotaan semakin mendesak, Pemerintah Aceh pada masa Abu Doto telah mendorong berbagai konsep pembangunan transportasi modern yang kemudian menjadi bagian dari transformasi wajah ibu kota provinsi.
Pembangunan Hingga ke Pelosok Aceh
Tidak hanya proyek-proyek besar yang menjadi perhatian publik. Selama masa kepemimpinannya, pembangunan jalan provinsi, jembatan penghubung antardaerah, jaringan irigasi, serta berbagai fasilitas publik terus dilakukan untuk memperkuat konektivitas dan pemerataan pembangunan hingga ke wilayah pelosok Aceh.
Warisan yang Akan Terus Dikenang
Tentu, setiap kepemimpinan memiliki tantangan dan keterbatasan. Namun sejarah sering kali lebih mudah mengingat karya yang dapat dirasakan daripada perdebatan yang pernah terjadi. Hari ini, masyarakat Aceh masih menikmati berbagai infrastruktur yang dibangun atau diperjuangkan pada masa kepemimpinan Abu Doto.
Ketika jamaah berteduh di bawah payung Masjid Raya Baiturrahman, ketika kendaraan melintasi Jembatan Lamnyong, ketika masyarakat menikmati manfaat jalan tol pertama di Aceh, di sanalah jejak pengabdian Abu Doto tetap hadir.
Ia mungkin telah berpulang pada 13 Juni 2026, tetapi karya-karyanya masih berbicara. Beton, baja, jalan, jembatan dan bangunan yang berdiri kokoh di berbagai sudut Aceh menjadi saksi bahwa pernah ada seorang pemimpin yang tidak hanya memperjuangkan perdamaian, tetapi juga berupaya meletakkan fondasi pembangunan untuk masa depan.
Abu Doto telah pergi. Namun jejak pembangunannya tetap hidup. Dan selama masyarakat Aceh masih merasakan manfaat dari warisan tersebut, nama Abu Doto akan terus dikenang dalam perjalanan sejarah Aceh.

Posting Komentar