Ketukan Jam Dua Pagi
Ilham sudah terlalu sering bolak-balik ke Jakarta. Sebagai komisioner dari daerah, perjalanan dinas bukan lagi sesuatu yang istimewa. Bandara, hotel, ruang rapat, lalu pulang membawa setumpuk catatan evaluasi, semuanya terasa seperti rutinitas yang melelahkan.
Tiga hari terakhir ia mengikuti rapat nasional tentang persiapan pemilu mendatang. Dari pagi sampai malam, pembahasannya tidak jauh dari soal daftar pemilih, kerawanan sengketa, hingga tekanan politik di daerah.
Malam itu hujan turun sejak magrib.
Selepas makan bersama beberapa peserta lain di kawasan Senen, Ilham memilih kembali lebih dulu ke hotel. Tubuhnya benar-benar lelah.
Hotel tempat panitia menginapkan peserta berada di pusat Jakarta. Bangunannya sudah tua, mungkin dibangun akhir tahun 90-an. Lorongnya sempit, karpet merahnya kusam, dan lampu dinding kekuningan membuat suasana terasa muram.
Jam menunjukkan pukul 00.40 ketika Ilham membuka pintu kamar 1109.
Ia meletakkan tas, membuka jas, lalu berdiri beberapa saat di dekat jendela. Dari lantai sebelas, Jakarta tampak basah oleh hujan. Lampu kendaraan memantul di aspal seperti garis-garis panjang berwarna kuning.
Sunyi.
Aneh sekali sunyinya.
Padahal biasanya hotel di Jakarta selalu terdengar ramai.
Ilham mandi air hangat, lalu membuka laptop sebentar untuk memeriksa beberapa pesan pekerjaan. Setelah itu ia rebahan sambil memainkan ponsel.
Sebelum tidur, ia sempat melihat foto istrinya dan anak-anak di wallpaper layar.
Rasa bersalah tiba-tiba muncul.
Sudah beberapa minggu terakhir ia terlalu sering pulang malam. Terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan tahapan pemilu.
Pukul satu lewat, akhirnya matanya mulai berat. Namun belum lama ia terlelap.
TOK TOK TOK.
Ilham langsung membuka mata.
Ia mengira hanya mimpi.
TOK TOK TOK.
Ketukan itu terdengar lagi.
Pelan.
Teratur.
Ia menoleh ke jam digital di meja.
02.03 pagi.
Ilham menghela napas panjang. Dalam hati ia agak kesal. Mungkin peserta lain salah kamar atau panitia mendadak membawa informasi penting.
Dengan langkah malas ia berjalan menuju pintu lalu mengintip dari lubang kecil.
Seorang perempuan berdiri di luar.
Rambutnya panjang dan basah.
Ia memakai dress hitam sederhana selutut. Wajahnya cantik, tapi pucat sekali seperti orang sakit.
Perempuan itu menatap lurus ke arah pintu.
“Maaf, Pak…” katanya lirih. “Bisa minta tolong sebentar?”
Ilham ragu.
Instingnya sebenarnya meminta untuk tidak membuka pintu. Tetapi rasa tidak enak sebagai sesama tamu hotel membuatnya menjawab.
“Ada apa, Mbak?”
“Saya takut sendiri… kamar saya listriknya mati.”
Suaranya sangat lembut.
Nyaris seperti berbisik.
Ilham membuka pengunci atas, lalu membuka pintu sedikit.
“Sudah telepon resepsionis?”
Perempuan itu menggeleng pelan.
“Ada suara orang di kamar saya…”
Kalimat itu membuat Ilham tidak nyaman.
Namun wajah perempuan itu terlihat benar-benar ketakutan.
“Mungkin lebih baik lapor ke bawah saja,” kata Ilham hati-hati.
Perempuan itu menunduk beberapa detik.
Lalu berkata pelan: “Boleh saya masuk sebentar?”
Entah kenapa, saat kalimat itu terucap, hawa dingin langsung masuk ke kamar.
Bulu kuduk Ilham berdiri.
Aroma melati tiba-tiba tercium sangat kuat.
Padahal sebelumnya tidak ada bau apa pun.
Ilham menelan ludah.
Tapi karena merasa tidak enak, ia akhirnya membuka pintu lebih lebar.
“Sebentar saja ya, Mbak.”
Perempuan itu tersenyum tipis lalu masuk tanpa suara.
Langkahnya aneh.
Terlalu ringan.
Ia duduk di sofa dekat jendela sambil menatap hujan di luar.
Diam.
Tidak banyak bicara.
Ilham mencoba menghubungi resepsionis lewat telepon kamar.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba sekali lagi.
Tetap sunyi.
Saat menoleh, ia mendapati perempuan itu sedang memperhatikan wallpaper ponselnya yang tergeletak di meja.
“Istri Bapak cantik…”
Ilham tersenyum kecil.
“Iya.”
Perempuan itu terus menatap foto tersebut cukup lama.
Lalu bertanya pelan: “Bapak sering pulang malam?”
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Nada suaranya tidak lagi terdengar biasa.
Ilham tidak langsung menjawab.
Lampu kamar tiba-tiba berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Dan saat cahaya kembali normal, perempuan itu sudah berdiri sangat dekat di depannya.
Padahal tadi jaraknya beberapa meter.
Ilham spontan mundur.
Wajah perempuan itu pucat sekali.
Matanya tampak merah samar.
“Temani saya malam ini…”
Suaranya berubah berat.
Serak.
Seperti keluar dari tenggorokan yang rusak.
“Mbak… sebaiknya kembali ke kamar,” kata Ilham pelan sambil menahan gugup.
Perempuan itu tersenyum.
Tapi senyum itu terlalu lebar.
Tidak wajar.
“Bapak tahu…” katanya lirih. “Sudah banyak laki-laki yang buka pintu kamar untuk saya.”
Lampu kembali berkedip.
Kali ini lebih lama.
Dan ketika terang lagi, leher perempuan itu tampak miring.
Seperti patah.
Ilham langsung berdiri.
“Astaghfirullah…”
Perempuan itu tertawa kecil.
Suara tawanya menggema aneh di seluruh ruangan.
“Kenapa takut, Pak Komisioner?”
Jantung Ilham serasa berhenti sesaat.
Ia tidak pernah menyebut pekerjaannya.
Tidak ada tanda pengenal di kamar.
Tidak mungkin perempuan itu tahu.
Ilham langsung meraih gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.
Lorong hotel kosong.
Lampu kuning redup memanjang tanpa suara.
Saat ia menoleh ke belakang, perempuan itu masih berdiri di tengah kamar.
Kini rambutnya menutupi seluruh wajah.
Dan kaki kirinya menggantung.
Tidak menyentuh lantai.
“Jangan keluar…” bisiknya.
Ilham panik.
Ia langsung berlari menuju lift.
Tangannya gemetar menekan tombol berkali-kali.
Tidak menyala.
Dari ujung lorong terdengar suara langkah pelan.
Tap…
Tap…
Tap…
Ilham menoleh.
Perempuan itu berjalan mendekat.
Kepalanya masih miring.
Namun kini senyumnya terlihat jelas di balik rambut hitam yang basah.
“Temani saya sampai pagi…”
Suara itu membuat tubuh Ilham lemas.
Dengan napas memburu, ia spontan membaca ayat kursi.
Suara bacaannya bergetar.
Perempuan itu mendadak berhenti.
Wajahnya berubah marah.
Lampu lorong langsung mati total.
Gelap.
Pekat.
Dan di tengah kegelapan itu.
Ilham mendengar suara napas tepat di samping telinganya.
“Kenapa semua lelaki selalu lari…?”
DING!
Lift tiba-tiba terbuka sendiri.
Ilham tanpa pikir panjang langsung masuk dan menekan tombol lobby.
Pintu lift menutup cepat.
Namun sesaat sebelum benar-benar tertutup, ia melihat perempuan itu berdiri di luar.
Diam.
Tersenyum.
Lalu perlahan melambaikan tangan.
Pagi harinya Ilham turun ke resepsionis dengan wajah pucat.
Petugas hotel yang berjaga terlihat kebingungan saat mendengar ceritanya.
“Perempuan pakai dress hitam?” tanya petugas pelan.
Ilham mengangguk.
Wajah petugas itu langsung berubah tegang.
Ia terdiam beberapa saat sebelum berkata lirih:
“Dulu pernah ada tamu perempuan meninggal bunuh diri di lantai sebelas, Pak.”
Ilham menatapnya serius.
“Karena apa?”
“Katanya ditinggal suaminya selingkuh saat perjalanan dinas.”
Suasana lobby mendadak terasa dingin.
Petugas itu melanjutkan, “Sejak itu beberapa tamu laki-laki sering mengaku diketuk jam dua pagi.”
Ilham tercekat.
“CCTV lorong ada?”
Petugas itu mengangguk pelan lalu memutar rekaman kamera.
Video hitam-putih muncul di layar monitor.
Pukul 02.03.
Terlihat Ilham membuka pintu kamar.
Berdiri beberapa saat.
Seperti sedang berbicara dengan seseorang.
Lalu perlahan mundur sendiri masuk ke dalam kamar.
Tidak ada perempuan siapa pun di depan pintu.
Petugas hotel menelan ludah.
Sedangkan Ilham hanya diam mematung.
Karena di rekaman itu sesaat sebelum pintu kamar tertutup terlihat bayangan hitam sangat samar berdiri tepat di belakang tubuhnya. []
| Cerpen ini ditulis oleh: Yusri Razali

Posting Komentar