Aceh, Negeri yang Terlalu Sibuk dengan Citra
Beberapa hari terakhir, Aceh kembali gelap. Listrik padam berjam-jam. Aktivitas masyarakat lumpuh. Warung kopi kehilangan pelanggan. Jaringan internet terganggu. Rumah-rumah sakit harus bersiap dengan cadangan daya. Sebagian warga bahkan mengeluhkan perangkat elektronik mereka rusak akibat listrik hidup-mati berulang.
Namun di tengah keresahan masyarakat itu, ada satu hal yang terasa ironis: ruang publik kita justru masih lebih ramai oleh pencitraan daripada pembicaraan serius tentang solusi.
Media sosial dipenuhi seremoni. Baliho ucapan terus berdiri tegak. Pejabat sibuk membangun kesan hadir di tengah rakyat. Tetapi ketika listrik padam massal melanda Aceh, publik seperti kembali diingatkan bahwa fondasi pelayanan dasar kita ternyata masih rapuh.
Inilah wajah paradoks Aceh hari ini, terlalu sibuk membangun citra, tetapi sering terlambat membangun sistem.
Padahal listrik bukan persoalan kecil. Ia adalah urat nadi kehidupan modern. Ketika listrik mati, bukan hanya lampu yang padam, tetapi juga aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, hingga komunikasi masyarakat ikut terganggu.
Ironisnya, Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi pun ternyata belum memiliki sistem perlindungan energi yang benar-benar kuat. Gangguan transmisi di luar daerah bisa langsung berdampak besar pada kehidupan masyarakat Aceh. Artinya, daerah ini masih sangat bergantung pada sistem regional tanpa mekanisme perlindungan mandiri yang memadai.
Di sinilah persoalan sebenarnya.
Kita terlalu sering sibuk menampilkan kemajuan, tetapi kurang serius memperkuat fondasi dasar pembangunan. Kita gemar berbicara tentang transformasi digital, kota modern dan kemajuan daerah, tetapi pelayanan paling mendasar seperti listrik saja belum sepenuhnya stabil.
Aceh akhirnya terjebak dalam budaya tampak baik.
Yang penting terlihat bekerja. Yang penting ramai di media sosial. Yang penting ada dokumentasi kegiatan. Sementara urusan mendasar yang menyangkut hajat hidup masyarakat sering berjalan lambat dan reaktif.
Padahal rakyat tidak hidup dari pencitraan.
Masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak slogan ketika listrik di rumah mereka terus padam. Anak muda tidak membutuhkan pidato panjang tentang masa depan jika infrastruktur dasar saja belum mampu menopang aktivitas modern. Pelaku usaha kecil tidak peduli seberapa megah narasi pembangunan jika usaha mereka tetap rugi akibat listrik yang tidak stabil.
Pemadaman massal kemarin seharusnya menjadi alarm keras bagi Aceh.
Bahwa pembangunan bukan sekadar soal acara seremonial, unggahan media sosial atau narasi besar tentang kemajuan. Pembangunan sejati adalah kemampuan negara menghadirkan pelayanan dasar yang andal, stabil dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sayangnya, kita hidup di zaman ketika citra sering kali lebih diprioritaskan daripada substansi.
Politik hari ini terlalu sering berubah menjadi panggung visual. Banyak energi habis untuk mengelola persepsi, bukan menyelesaikan persoalan. Kritik dianggap mengganggu citra. Evaluasi dipandang sebagai ancaman. Akibatnya, banyak masalah mendasar terus berulang tanpa pembenahan serius.
Aceh sebenarnya memiliki semua modal untuk maju. Daerah ini memiliki sumber daya alam besar, posisi strategis, dan generasi muda yang potensial. Tetapi kemajuan tidak lahir dari pencitraan yang terus dipoles. Ia lahir dari keberanian membangun sistem yang kuat meski tidak selalu terlihat glamor.
Membangun sistem kelistrikan yang tahan krisis mungkin tidak seviral seremoni politik. Membuat perlindungan energi bagi ibu kota provinsi mungkin tidak menghasilkan banyak tepuk tangan. Tetapi justru hal-hal seperti itulah yang menentukan kualitas hidup masyarakat.
Karena pada akhirnya rakyat akan lupa pada baliho dan slogan.
Tetapi rakyat tidak akan lupa bagaimana mereka hidup dalam gelap berjam-jam ketika negara belum benar-benar siap melindungi pelayanan dasarnya sendiri.
Aceh terlalu berharga jika hanya dijadikan panggung pencitraan.
Sudah waktunya daerah ini berhenti terlalu sibuk terlihat maju, lalu mulai sungguh-sungguh membangun kemajuan itu sendiri.
| Ditulis oleh: Yusri Razali, Warga Kota Banda Aceh

Posting Komentar