Buka Puasa Bersama Munawar Khalil, Kuah Laot Jadi Simbol Kebersamaan

Daftar Isi

Langit Banda Aceh berwarna jingga lembut ketika tamu-tamu mulai berdatangan, Minggu, 22 Februari 2026. Angin sore berembus pelan membawa aroma asin yang samar, aroma yang mengingatkan pada laot, laut yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Aceh. Seolah sejak awal, suasana telah memberi isyarat bahwa malam itu bukan sekadar buka puasa biasa, melainkan perjumpaan rasa dan makna.

Di rumah Ketua Umum PP PRIMA DMI (Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia), Munawar Khalil, kehangatan terasa bahkan sebelum duduk bersila. Tidak ada sekat formalitas. Senyum lebih dulu menyapa daripada gelar. Percakapan mengalir tentang masjid yang semakin hidup di bulan suci, tentang generasi muda yang perlu dirangkul dengan hikmah, serta tentang Aceh yang diyakini mampu tumbuh lebih hijau dan mandiri.

Munawar Khalil yang juga Direktur PT Aceh Green Industry serta pernah memimpin Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) periode 2015-2017, lebih banyak mendengar. Ia membiarkan tamu-tamunya menuntaskan pikiran. Kepemimpinannya terasa tenang, tidak meledak-ledak, seperti kuah laot yang bening namun menyimpan kedalaman rasa.

Di meja makan, tersaji hidangan khas pesisir, sebagian menyebutnya kuah laot, sebagian lagi mengenalnya sebagai kuah lada dari Bantayan Seunuddon Aceh Utara. Laot berarti laut, asal segala bahan dan cerita. Kuahnya bening, dengan lada hitam yang ditumbuk kasar sebagai jiwa rasa. Serai dan perasan jeruk nipis menambah kesegaran, sementara ikan segar menjadi pusat dari semuanya. Pedasnya tidak menghentak, ia hadir perlahan, hangat dan menetap.

Saat azan Maghrib berkumandang, hening menyelimuti ruangan. Doa-doa terucap lirih. Kurma dan air putih membuka jeda lapar, lalu sendok-sendok mulai menyentuh kuah yang masih mengepul. Dalam suapan pertama, terasa bukan hanya pedas lada atau gurih ikan, tetapi juga jejak laut, kerja keras nelayan dan kesabaran yang diwariskan turun-temurun.

Malam itu, buka puasa terasa seperti perjalanan pulang. Kuah laot atau kuah lada yang tersaji bukan sekadar menu, ia menjadi metafora. Bening tetapi tegas, sederhana namun menghangatkan, seperti kepemimpinan yang membumi dan persahabatan yang tidak banyak kata.

Percakapan pun berubah lebih reflektif. Tentang bagaimana masjid harus menjadi pusat peradaban, tentang kaderisasi yang penuh kasih, tentang pembangunan ekonomi yang tetap berpijak pada nilai. Semua mengalir alami, sebagaimana kuah dari laut yang tidak pernah berhenti memberi.

Di rumah itu, Ramadhan menemukan bentuknya yang paling jujur, kebersamaan tanpa panggung. Hanya meja makan, doa yang khusyuk dan semangkuk kuah pedas yang mengikat cerita masa lalu dengan harapan masa depan.

Dan ketika malam kian larut, yang tersisa bukan sekadar rasa di lidah, tetapi getar di hati, bahwa dari laot yang luas hingga meja makan yang sederhana, selalu ada kekuatan untuk melanjutkan pengabdian.

Posting Komentar