Amsal Alfian: Jejak Sunyi Menuju Ketua Umum PB PII

Daftar Isi
Amsal Alfian, S.E., M.E.

Riuh tepuk tangan itu tak sekadar menggema, ia bergetar, memantul di dinding ruang sidang, seakan membawa denyut sejarah yang baru saja ditulis. Palu diketuk. Satu ketukan yang sederhana, tetapi sarat makna. Di jantung Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada 10-15 Februari 2026, Muktamar Nasional ke-33 Pelajar Islam Indonesia (PII) menandai lahirnya babak baru. Nama itu pun disebut lantang, Amsal Alfian, Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) periode 2026-2028.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya pergantian kepemimpinan. Namun bagi ratusan kader yang hadir, momen itu terasa seperti simpul waktu yang mempertemukan masa lalu, hari ini, dan harapan masa depan. Ada mata yang berkaca-kaca. Ada dada yang sesak oleh bangga. Dan ada kesadaran sunyi bahwa amanah besar kini berpindah ke pundak seorang pemuda kelahiran 18 Mei 1995 yang tumbuh bukan oleh sorotan, melainkan oleh proses panjang dan kesetiaan pada jalan kaderisasi.

Amsal bukanlah nama yang tiba-tiba muncul di panggung nasional. Ia lahir dari ruang-ruang sederhana. Dari komisariat kecil di SMA N Bireuen pada 2015-2016, ia memulai langkah sebagai Ketua Umum Komisariat. Di sana, di antara diskusi yang kadang berlangsung hingga larut malam, ia belajar tentang arti mendengar sebelum berbicara. Tentang merawat perbedaan tanpa kehilangan prinsip. Tentang menjaga api idealisme agar tetap menyala meski diterpa angin keraguan.

Tahun-tahun berikutnya menjadi fase tempaan. Ia dipercaya memimpin Pengurus Daerah PII Bireuen (2017–2018). Tantangan tak pernah benar-benar reda. Keterbatasan fasilitas, dinamika kader, hingga kompleksitas persoalan pelajar menjadi medan belajar yang sesungguhnya. Namun justru dari situlah keteguhan ditempa. Ia memahami bahwa organisasi bukan hanya soal struktur, melainkan tentang rasa memiliki dan kesediaan untuk berjuang bersama.

Kepercayaan yang lebih besar datang saat ia menakhodai Pengurus Wilayah PII Aceh periode 2021-2024. Pada tahap ini, kepemimpinannya diuji oleh dinamika yang jauh lebih kompleks. Ia merapatkan barisan, membenahi fondasi dan memperluas jejaring lintas daerah. Baginya, organisasi tidak cukup hanya dikenal karena sejarah panjangnya. Ia harus kokoh dalam sistem, hidup dalam gagasan dan relevan dalam menjawab zaman.

Di balik aktivitas organisasinya, Amsal menempuh perjalanan akademik yang tak kalah serius. Ia menyelesaikan studi S-1 dan S-2 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan melanjutkan studi doktoral di Universitas Syiah Kuala. Dunia akademik membentuk ketajaman analisisnya, sementara organisasi menajamkan nurani dan kepeduliannya. Ilmu dan nilai berjalan beriringan dalam dirinya.

Ketika berdiri di mimbar muktamar di Palembang, ia tak hanya membawa identitas pribadi atau kebanggaan daerah. Ia membawa jejak panjang sejarah organisasi yang lahir pada 4 Mei 1947, di masa bangsa ini masih berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ia sadar betul, Pelajar Islam Indonesia bukan sekadar wadah aktivitas pelajar, melainkan rumah kaderisasi yang telah melahirkan tokoh-tokoh bangsa dan penjaga moral intelektual generasi muda.

Namun kini, tantangan zaman hadir dalam wajah yang berbeda. Dunia memasuki era kecerdasan buatan "Artificial Intelligence" (AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, bahkan berpikir. Algoritma menggantikan banyak proses manual. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Pelajar tidak lagi hanya bersaing di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital yang tanpa batas.

Dalam pidato perdananya, Amsal menyinggung realitas itu dengan nada yang reflektif sekaligus visioner. Baginya, era AI bukan ancaman yang harus ditakuti, melainkan gelombang besar yang harus disikapi dengan kesiapan nilai dan kapasitas. “Kita tidak boleh tertinggal,” ujarnya. “Pelajar Islam harus menguasai teknologi, memahami data dan memanfaatkan AI untuk kemaslahatan. Tetapi di saat yang sama, kita harus memastikan nilai, etika dan tanggung jawab tetap menjadi kompas.”

Suaranya sempat bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena sadar akan beratnya amanah. Namun setiap kalimatnya tegas. Ia berbicara tentang persatuan, tentang barisan yang rapi dan solid. Tentang PII yang tetap setia pada nilai dasar perjuangan, namun berani berdialog dengan era digital dan kecerdasan buatan yang bergerak cepat.

“Ini bukan kemenangan pribadi,” ucapnya, penuh kesadaran. “Ini adalah amanah kolektif. Kita ingin PII mengakar kuat di setiap provinsi, daerah dan komisariat. Kita ingin PII hadir bukan hanya dalam struktur, tetapi dalam kontribusi nyata, termasuk dalam membimbing pelajar menghadapi era AI dengan kesiapan intelektual dan moral.”

Sejenak ruangan hening. Kata-kata itu menggantung di udara, menyentuh hati banyak orang yang selama ini setia merawat organisasi dalam diam. Lalu tepuk tangan kembali meledak, lebih panjang, lebih dalam. Di antara para kader, tersimpan harapan yang sama, kepemimpinan baru ini mampu membawa PII melangkah progresif, adaptif terhadap teknologi, tanpa tercerabut dari jati dirinya.

Tantangan ke depan tidaklah ringan. Disrupsi digital, kecerdasan buatan dan transformasi pendidikan global menuntut kompetensi baru, literasi data, kreativitas, kolaborasi lintas batas. Namun sejarah telah membuktikan, organisasi yang lahir sejak 4 Mei 1947 ini telah melewati badai zaman dari masa revolusi hingga era internet. Ia bertahan karena nilai perjuangannya tak pernah ditinggalkan.

Kini, di usia yang masih relatif muda, seorang pemimpin nasional pelajar berdiri membawa estafet itu. Dari Aceh, ia melangkah ke panggung Indonesia. Dari Palembang, sejarah kembali bergerak. Harapan tumbuh, tekad menguat dan semangat pengabdian menyala tidak untuk sehari, tidak untuk satu periode, tetapi untuk perjalanan panjang menjaga idealisme pelajar dan masa depan bangsa.

Posting Komentar