Aceh Tenggelam Lagi, Ternyata Ini Pemicunya

Daftar Isi

Banda Aceh – Sejumlah wilayah di Aceh kembali dilanda banjir dalam beberapa pekan terakhir. Hujan deras yang terjadi hampir setiap hari sejak akhir Oktober hingga akhir November membuat beberapa kabupaten, terutama Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bireuen, Pidie Jaya, Gayo Luwes, Aceh Barat, Aceh Selatan, Nagan Raya hingga Aceh Singkil terendam dengan ketinggian air bervariasi. 

Meski banjir kerap dihubungkan dengan cuaca ekstrem, berbagai analisis menunjukkan bahwa persoalan lingkungan, kerusakan hutan, hingga tata kelola daerah aliran sungai (DAS) turut berperan besar memperparah kondisi.

Di banyak lokasi, air mulai masuk ke rumah warga hanya dalam hitungan jam setelah hujan deras. “Air tiba-tiba naik cepat, dalam dua jam rumah sudah setinggi lutut,” kata Junaidi, warga Aceh Utara, saat ditemui di lokasi pengungsian. Fenomena ini bukan hal baru, namun kejadiannya makin sering dan intensitasnya semakin parah.

Curah Hujan Ekstrem Jadi Pemicu Utama

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan curah hujan di wilayah Sumatra bagian utara dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini dipengaruhi oleh angin monsun Asia dan anomali cuaca di Samudera Hindia. 

Dalam beberapa peristiwa, hujan deras turun terus-menerus lebih dari enam jam, cukup untuk membuat sungai-sungai kecil di permukiman meluap.

“Secara meteorologis, Aceh sedang berada pada fase curah hujan puncak,” kata seorang analis cuaca. Namun menurut para pengamat lingkungan, hujan ekstrem seharusnya tidak otomatis memicu banjir besar jika kondisi lingkungan dan sungai dalam keadaan sehat.

Kerusakan Hutan dan Pembukaan Lahan Picu Runoff Besar

Analisis lapangan menunjukkan bahwa kerusakan hutan di hulu menjadi salah satu faktor paling dominan dalam memperparah banjir Aceh. Penebangan liar, pembukaan kebun baru, dan aktivitas pertambangan mengakibatkan permukaan tanah kehilangan kemampuan menyimpan air.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air langsung mengalir deras ke hilir tanpa sempat meresap, menyebabkan debit sungai meningkat drastis dalam waktu singkat. Hal inilah yang menjadi penyebab umum banjir bandang di beberapa kabupaten, terutama Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Tengah wilayah yang terkenal memiliki struktur hulu sungai besar.

“Dulu air mengalir pelan. Sekarang begitu hujan sebentar, langsung deras. Hutan di atas sana sudah banyak gundul,” ungkap seorang tokoh adat di Aceh Tenggara.

Sungai Mengalami Pendangkalan, Kapasitas Tidak Mampu Tampung Air

Beberapa sungai besar seperti Krueng Tamiang, Krueng Pase, Krueng Peusangan, dan Krueng Keureutoe dilaporkan mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. Endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu membuat dasar sungai lebih dangkal dari kondisi ideal. Di banyak titik, sungai bahkan menyempit karena tumpukan pasir dan aktivitas galian C.

Akibatnya, saat debit meningkat, air tak lagi mampu ditampung dan akhirnya meluap ke permukiman. Warga Aceh Tamiang sudah berkali-kali menyampaikan keluhan soal kondisi sungai yang kian dangkal, namun hingga kini normalisasi belum dilakukan secara menyeluruh.

“Infrastruktur sungai butuh penanganan serius. Pendangkalan sudah parah,” ujar seorang aktivis lingkungan di Langsa.

Tata Ruang Bermasalah, Permukiman Makin Dekat ke Bantaran Sungai

Pesatnya pembangunan perumahan di Aceh dalam sepuluh tahun terakhir juga menjadi faktor yang jarang dibahas tetapi sangat mempengaruhi pola banjir. Banyak kawasan permukiman dibangun di daerah cekungan, rawa, atau zona resapan air.

Di kota-kota besar seperti Lhokseumawe, Banda Aceh, dan Langsa, masalah ini diperparah oleh minimnya ruang terbuka hijau (RTH). Drainase yang sempit dan terhubung buruk membuat air hujan cepat menggenang.

“Di beberapa blok perumahan, saluran tidak mampu mengalirkan air hujan deras karena ukurannya kecil dan banyak tersumbat,” kata seorang pejabat dinas pekerjaan umum.

Drainase Buruk Jadi Masalah Tahunan di Banyak Kota

Di wilayah perkotaan Aceh, banjir kerap terjadi bukan akibat luapan sungai, tetapi karena sistem drainase yang buruk. Banyak saluran yang sudah berusia puluhan tahun dan tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Faktor lainnya:

  • Kurangnya pemeliharaan drainase
  • Banyak sampah menumpuk
  • Saluran tidak terhubung dengan baik antar kawasan
  • Tidak adanya waduk pengendali banjir di kota padat penduduk

Akibatnya, hujan dua hingga tiga jam saja cukup membuat jalan-jalan berubah menjadi kolam air.

Degradasi Mangrove dan Wilayah Pesisir Perparah Banjir Rob

Wilayah pesisir Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Barat juga menghadapi persoalan banjir rob. Kerusakan hutan mangrove membuat kawasan pesisir kehilangan pelindung alami yang biasanya berfungsi menahan gelombang dan meredam debit air sungai.

Ketika hujan lebat bersamaan dengan pasang tinggi laut, air dari dua arah masuk ke daratan, menyebabkan banjir semakin sulit dikendalikan. Banyak desa pesisir kini menghadapi ancaman banjir yang bersifat permanen.

Penanganan Tak Terpadu Jadi Masalah Utama

Para pakar lingkungan menilai bahwa persoalan banjir Aceh bukan hanya soal cuaca atau kerusakan lingkungan, tetapi juga lemahnya koordinasi antarinstansi dan tidak adanya kebijakan terpadu yang konsisten.

Beberapa persoalan yang muncul:

  • Normalisasi sungai hanya dilakukan di titik-titik kecil
  • Penegakan hukum terhadap ilegal logging belum optimal
  • Program rehabilitasi hutan berjalan lambat
  • Pengawasan tata ruang lemah
  • Drainase kota tidak dikelola dengan masterplan jangka panjang

“Banjir Aceh tidak akan selesai jika penanganannya tambal sulam. Harus ada strategi besar yang melibatkan semua pihak,” kata salah seorang akademisi dari Fakultas Teknik sebuah universitas di Banda Aceh.

Banjir Aceh Merupakan Kombinasi Kompleks

Dari rangkaian analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa banjir di Aceh adalah akumulasi dari berbagai penyebab:

  1. Curah hujan ekstrem.
  2. Kerusakan hutan di hulu. 
  3. Pendangkalan sungai.
  4. Tata ruang yang tidak terkendali. 
  5. Drainase tidak memadai, serta
  6. Degradasi pesisir dan mangrove.

Dengan kondisi tersebut, peluang banjir untuk terus berulang setiap tahun sangat tinggi apabila tidak segera dilakukan penanganan menyeluruh.

Posting Komentar